Mengenal Bencana Kebakaran


  • 26-08-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Musim kemarau telah tiba dan saatnya kita waspada terhadap salah satu bencana yang seringkali terjadi di musim kemarau yaitu bencana kebakaran. Kebakaran dapat terjadi di mana saja baik itu di kantor, perumahan, pusat perbelanjaan, jalan raya, laut, hutan, area persawahan, dan kebun asalkan terdapat komponen terjadinya proses kebakaran.

Proses terjadinya kebakaran dapat dijelaskan melalui teori segitiga api. Teori segitiga api menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen penyebab terjadinya kebakaran yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Bahan bakar adalah bahan-bahan yang mudah terbakar atau mudah bereaksi dengan pembakaran yang dapat dibagi menjadi beberapa jenis bahan bakar yaitu zat padat (kertas, sampah kering, kayu, kain, daun), zat cair (minyak tanah, spirtus, alkohol, solar, bensin), dan zat gas (LPG, LNG). Panas adalah sumber panas yang dapat dikategorikan beberapa jenis seperti faktor alam (panas gunung berapi, petir), energi panas listrik (konsleting, arus pendek), energi panas karena gesekan (mekanis), energi panas kimia, energi panas nuklir, dan energi panas matahari.

Terdapat teori lain yaitu teori piramida api yang menjelaskan proses terjadinya kebakaran dengan adanya ketiga komponen panas, bahan bakar, dan oksigen belum tentu menyebabkan kebakaran. Ketiga komponen tersebut membutuhkan rantai reaksi kimia untuk terjadinya nyala api atau peristiwa pembakaran.

Kebakaran dapat dibagi berdasarkan penyebabnya yaitu kebakaran tipe A, tipe B, dan tipe C. Kebakaran tipe A disebabkan bahan padat seperti kertas, kayu, yang cara pemadamannya dapat menggunakan pasir, air, karung goni basah yang dicelupkan air, serta alat pemadam kebakaran untuk kebakaran tipe A. Kebakaran tipe B disebabkan bahan cair seperti bensin, solar, spirtus, yang dapat dipadamkan menggunakan pasir, tepung pemadam kering (dry powder), busa (foam) dan alat pemadam kebakaran tipe B. Tidak disarankan memadamkan kebakaran yang disebabkan bahan cair menggunakan air karena berisiko kebakaran akan lebih menyebar/menjalar. Kebakaran tipe C disebabkan listrik yang dapat menimbulkan panas seperti konsleting atau arus pendek dan mengenai bahan yang mudah terbakar. Cara pemadaman harus mematikan arus listrik dan menggunakan alat pemadam kebakaran tipe C. Kebakaran tipe D disebabkan logam seperti magnesium, alumunium, kalium, dan natrium. Kebakaran tipe D dapat dipadamkan menggunakan pasir, dry powder, alat pemadam kebakaran tipe powder. Kebakaran tipe K biasanya terjadi di dapur disebabkan karena minyak goreng yang terlalu lama dipanaskan, konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran tipe K dapat dipadamkan menggunakan wet chemicalyang mengandung Potassium Acetate.

Untuk antisipasi terjadinya kebakaran kita harus mengetahui hal-hal yang dapat menyebabkan kebakaran seperti tidak meninggalkan kompor yang menyala, tidak menggunakan sumber listrik dengan beban yang berat, tidak meletakkan bahan yang mudah terbakar di dekat api, memeriksa kabel listrik yang terkelupas dan mengganti dengan yang baru, memeriksa secara rutin pipa gas, dan menyediakan media pemadam kebakaran seperti pasir, tandon air, dan alat pemadam kebakaran sesuai dengan tipe kebakaran. Mari waspada bencana kebakaran terutama di musim kemarau.

Update: 26-08-2019 | Dibaca 488 kali | Download versi pdf: Mengenal-Bencana-Kebakaran.pdf