PEMANFAATAN AUGMENTED REALITY LEARNING INFORMATION SYSTEM VOLCANO (LIS-V) DALAM PENDIDIKAN BENCANA ERA 4.0


  • 17-06-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Indonesia berada di kawasan busur cincin api Pasifik (Pacificring of fire) sehingga memiliki hazards yang tinggi terkait bencana erupsi gunung berapi. Perlu adanya mitigasi bencana salah satunya dalam bentuk pendidikan bencana. Menyesuaikan dengan karakteristik industry 4.0 maka pendidikan bencana dapat diterapkan menggunakan kemajuan teknologi industry 4.0. Learning & Information System Volcano (LIS-V) merupakan program augmented reality yang dirancang oleh Listyo Yuwanto tahun 2018 sebagai media pendidikan bencana.

Program ini dapar dijalankan dengan menggunakan handphone atau komputer dengan operational system (OS) berbasis Android dan sedang dikembangkan untuk OS IOS.

Berikut adalah gambaran ringkas menu AR LIS Volcano.

1. Pendahuuan

Pendahuluan berisi informasi dasar mengenai gunung berapi di Indonesia terdiri atas Video Indonesia The Ring of Fire yang menggambarkan sebaran gunung berapi di Indonesia, dampak negatif erupsi gunung berapi, status gunung berapi dan material gunung berapi yang ditampilkan melalui simulasi objek 3D.

2. Mitigasi

Mitigasi berisi simulasi jika terjadi bencana gunung berapi.

Dalam menghadapi bencana erupsi gunung berapi terdapat beberapa langkah yang dilakukan (mitigasi). Bentuk mitigasi yang ditampilkan di dalam LIS Volcano meliputi tahapan/langkah yaitu menyiapkan tas siaga bencana, penggunaan perlengkapan pelindung diri, dan proses evakuasi melalui simulasi objek 3D.

3. Pasca Erupsi

Pasca erupsi ditampilkan video dampak positif erupsi gunung berapi.

4. Bantuan

Menu bantuan berisi tentang panduan penggunaan AR LIS Volcano

Augmented Reality Learning & Information System Volcano merupakan salah satu bentuk media pembelajaran pendidikan bencana erupsi gurung berapi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi di era 4.0. Media ini dapat dimanfaatkan dengan persyaratan usia minimal kelas 1 Sekolah Dasar karena memenuhi kriteria tahapan perkembangan kognitif operasiona konkrit dan perkembangan motorik kasar dan halus yang memadai. Penggunaan media pembelajaran harus disertai dengan penjelasan formal mengenai pengetahuan gunung berapi dan adanya simulasi secara riel berkaitan dengan pengurangan risiko bencana untuk meningkatkan kapasitas individu dan komunitas dalam menghadapi bencana erupsi gunung berapi.