Ramadhan Dari Tinjauan Etika Normatif


  • 17-05-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk menempa dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Di bulan Ramadhan mereka yang menjalankan segala bentuk amalan dan ibadah diharapkan menjadi manusia yang memiliki moral yang baik. Berkaitan dengan moralitas tidak akan terlepas dari kajian etika normatif. Etika merupakan sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang ajek dan tertuang dalam kurun waktu yang lama sebagaimana laiknya sebuah kebiasaan.

Terdapat tiga bentuk etika normatif, yaitu kebajikan (virtue theory), kewajiban (deontological theory), dan konsekuensialis (consequentialist theory). Mari kita tinjau bulan Ramadhan dari tiga bentuk etika normatif. Kebajikan membahas mengenai pertanyaan Saya harus menjadi orang seperti apa?. Di bulan Ramadhan diperintahkan Allah SWT kepada setiap manusia yang beriman untuk melakukan ibadah puasa dengan tujuan untuk menjadi manusia yang tidak merugi. Artinya bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa akan menjadi orang yang bijaksana, penuh kepedulian, dan memiliki karakter yang baik. Mengapa demikian? Karena selama bulan Ramadhan, segala bentuk ibadah yang dilakukan memiliki tantangan tersendiri karena dalam kondisi berpuasa. Umumnya orang akan merasa lebih nyaman menjalankan ibadah dalam kondisi tanpa berpuasa. Namun seharusnya tidak demikian, dengan berpuasa dapat memfasilitasi manusia untuk lebih ingat dengan Allah SWT, ingat segala bentuk kekurangan, ingat segala bentuk kenikmatan yang telah diberikan sehingga akan membuat lebih bersemangat (vigor), fakus (absorption), dan berdedikasi bahwa segala bentuk ibadah dan amalannya ditujukan untuk menghapus dosa, menambah kebaikan hanya karena Allah SWT. Harapannya dengan ibadah puasa selama bulan Ramadhan menjadikan manusia menjadi lebih bijaksana dan menjadi orang baik dalam kehidupan.

Kewajiban,ibadah puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam yang beriman kepada Allah SWT. Manusia melalui teori etika normatif kewajiban memiliki tiga bentuk kewajiban yaitu kepada Tuhan, kepada diri sendiri, dan kepada orang lain. Selama bulan Ramadhan manusia memiliki kewajiban berbuat baik kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Kewajiban kepada Tuhan dinyatakan dalam bentuk beribadah, menjalankan segala bentuk perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangannya. Dengan demikian kewajiban kepada Allah SWT dapat ditampilkan dalam bentuk teoritikan dan praktikal. Kewajiban kepada diri sendiri dalam bentuk menjalankan ibadah puasa dan menjalankan amalan dengan tujuan menghapus segala bentuk dosa dan menambah amalan serta meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Siapa lagi yang dapat dan memiliki kewajiban untuk meningkatkan segala kebaikan secara jasmani dan rohani kita apabila bukan kita sendiri?. Kemudian kewajiban kepada orang lain, di bulan Ramadhan banyak sekali kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Salah satunya adalah membantu orang-orang yang secara ekonomi tidak beruntung dan memberi makan orang yang sedang berpuasa. Apabila hal tersebut dilakukan akan dapat membuat orang lain bahagia dan kebahagiaan orang lain pada akhirnya akan memberikan manfaat kepada kita.

Konsekuensialis membahas tentang baik-buruknya/benar-salah perilaku manusia berdasarkan konsekuensi atau akibatnya. Selama bulan Ramadhan umat Islam yang masih mampu diwajibkan menjalankan ibadah puasa dan disertai dengan segala bentuk amalan lainnya. Amalan-amalan baik itu tidak hanya ditujukan kepada Allah SWT dan diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain baik yang seagama ataupun berbeda agama. Konsekuensialis dapat dibagi menjadi tiga bentuk yaitu utilitarianisme, altruisme, dan egoisme. Dengan berbagi dan berbuat baik kepada orang lain selama bulan Ramadhan, apakah konsekuensinya atau manfaatnya dapat dirasakan orang lain (altruisme), dapat dirasakan orang banyak (utilitarianisme), dan dapat dirasakan orang lain namun kita harus memenuhi kebutuhan kita terlebih dahulu sehingga dalam berbagi kita menjadi lebih bijaksana (egoism).

Dengan demikian menjalankan segala bentuk amalan dan ibadah di bulan Ramadhan kita menjadi mengerti berkaitan apa yang seharusnya/pantas dilakukan oleh manusia sebagai manusia. Pada akhirnya segala bentuk tempaan pembentukan moral selama di bulan Ramadhan menjadi pedoman untuk berperilaku guna menciptakan tatanan hidup bersama yang manusiawi/beradab. Bulan Ramadhan adalah media pembentukan moralitas berdasarkan kajian etika normatif yang nantinya akan teruji di dalam kehidupan setelah melewati bulan Ramadhan.

Update: 17-05-2019 | Dibaca 744 kali | Download versi pdf: Ramadhan-Dari-Tinjauan-Etika-Normatif.pdf