14 Februari : Pesan Perjuangan PETA Kepada Generasi Muda


  • 11-02-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tanggal 14 Februari selalu identik dengan peringatan Valentine terutama bagi generasi muda. Hari Valentine 14 Februari merupakan hari kasih sayang yang diekspresikan melalui berbagai simbol seperti bunga mawar, cokelat, boneka, dan pernak-pernik lainnya berwarna merah muda. Pesta-pesta perayaan Valentine juga marak diadakan menyambut hari istimewa tersebut. Secara resmi dan tradisi 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine meskipun di kalender tidak tertulis momen khusus tersebut.

Sejenak kita beralih dahulu dari 14 Februari sebagai hari Valentine yang identik dengan kemeriahan dan kegembiraan, mari kita cermati sebuah tulisan yang berada di atas meja teras tengah ruang santai Istana Gebang Blitar.

"... di tempat ini pula telah berlangsung peristiwa bersejarah yang perlu diketahui oleh semua generasi muda...mengingat tempat ini adalah tempat pertemuan Shodanco Suprijadi, Shodanco Muradi, dan Dr. Ismangil menghadap Bung Karno yang sedang berkunjung ke rumah ini untuk menyampaikan rencananya bahwa para prajurit PETA Daidan Blitar akan melakukan pemberontakan kepada Jepang. Meskipun Bung Karno saat itu telah menasehati untuk memperhitungkan dengan cermat karena pertimbangan kekuatan yang tidak memungkinkan pemberontakan tersebut akan berhasil, akan tetapi semangat para anggota tentara PETA telah bulat dan tidak dapat dihalang-halangi. Maka pada pukul 03.00 dinihari tanggal 14 Februari 1945 meletuslah pemberontakan tersebut".

Pemberontakan PETA di Blitar terhadap Jepang memang gagal namun bukan berarti sia-sia karena dalam pemberontakan tersebut berhasil mengibarkan bendera merah putih dan mengobarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. PETA juga memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Peran pasukan PETA dalam peristiwa Rengasdengklok dalam detik-detik kemerdekaan Indonesia serta PETA adalah cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pemberontakan PETA tersebut sebagai wujud cinta tanah air yang ditampilkan melalui perang masa revolusi melawan penjajah Jepang yang dilakukan generasi muda. Usia Shodanco Suprijadi waktu itu 22 tahun dan menjabat sebagai komandan pasukan. Kekecewaan, kemarahan terhadap Jepang karena adanya kerja paksa (Romusha) yang menimbulkan penderitaan rakyat Indonesia dan kecintaan kepada tanah air mendorong Suprijadi dan PETA Daidan Blitar melakukan pemberontakan.

Cinta bukan hanya disampaikan melalui kata-kata tetapi membutuhkan bukti melalui perilaku. Cinta juga bukan hanya sebatas kepada pasangan atau terhadap seseorang tetapi juga kepada tanah air. Pemberontakan PETA 14 Februari 1945 adalah perjuangan cinta terhadap tanah air. Sekarang memang bukan lagi masa revolusi yang berjuang sebagai wujud cinta tanah air melalui angkat senjata, namun perjuangan sebagai bukti cinta tanah air melalui berbagai bidang kehidupan di era globalisasi. Sebagai penutup, pertanyaan berikut diajukan kepada semua Warga Negara Indonesia terutama generasi muda apa yang sudah kita lakukan dan berikan kepada tanah air sebagai wujud cinta terhadap Indonesia?. Shodanco Suprijadi dan pemberontakan PETA sudah memberikan contoh dan bukti cinta tanah air yang dapat kita jadikan sebagai tauladan.

Update: 11-02-2019 | Dibaca 754 kali | Download versi pdf: 14-Februari---Pesan-Perjuangan-PETA-Kepada-Generasi-Muda.pdf