Reaksi Umum Putus Cinta


  • 07-06-2011

Oleh : Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Seseorang yang masih mencintai pasangannya dan kemudian mengalami putus cinta umumnya akan menampilkan reaksi kehilangan terutama di awal-awal putus cinta. Berikut adalah gambaran reaksi putus cinta dari tinjauan psikologi mengacu pada teori yang diajukan oleh Shontz (sitat dalam Ogden, 1996).

Reaksi pertama yang muncul adalah shock. Shock ini menggambarkan kondisi kaget atau merasa tidak menduga. Beberapa karakteristik yang ditampilkan dalam bentuk shock biasanya adalah reaksi-reaksi otomatis dalam tubuh misalnya tiba-tiba kepala pusing, menangis, tenggorokan terasa kering, atau yang sering dialami adalah perasaan melayang yang tidak tergambarkan. Tinggi rendahnya shock yang mungkin dialami oleh individu bisa berbeda-beda dan tergantung pada kesiapan individu itu sendiri. Jika dalam hubungan romantis yang dijalaninya ia telah mendapatkan tanda-tanda bahwa ada aspek hubungan romantis yang telah berkurang tingkatnya, telah sering terjadi pertengkaran, ada tanda-tanda pasangan tidak lagi memberikan perhatian yang dibutuhkan, apalagi sudah ada kata-kata yang sempat keluar bagaimana kalau hubungan diakhiri, maka saat menerima kenyataan putus hubungan dengan pasangan meskipun shock ia telah mengerti apa dasarnya atau apa penyebabnya. Berbeda dengan individu yang merasa bahwa hubungan romantis yang dijalaninya biasa-biasa saja tidak ada masalah berarti tiba-tiba berakhir. Tingkat shock nya kemungkinan besar akan tinggi bila dibandingkan ia telah mengetahui sebelumnya bahwa di hubungan romantis yang dijalani telah terdapat masalah yang memungkinkan untuk berakhir.

Jadi tidak mengherankan ketika kita mengetahui ataupun mendengarkan berita ketika ada orang yang putus cinta bisa menampilan bentuk-bentuk perilaku menangis dengan keras, diam tidak bisa bereaksi apa-apa, kepala terasa kosong tidak bisa berpikir atau gelap mata dengan memecah barang-barang yang ada di sekitarnya ataupun seperti orang yang linglung. Kondisi ini disebabkan karena individu mengalami shock.

Kedua adalah encounter reaction. Bentuk reaksi ini merupakan kelanjutan dari shock. Pada fase ini dicirikan dengan pikiran kacau, perasaan kehilangan, tidak percaya, sedih, merasa tidak berdaya, dan merasa diri tidak berguna. Reaksi ini merupakan bentuk ketidak inginan kehilangan sesuatu yang dimiliki, namun akhirnya mengalami kehilangan. Kondisi encounter reaction bisa terjadi pada pihak yang memutuskan hubungan ataupun pada pihak yang diputuskan, namun secara umum kondisi ini lebih sering dialami oleh individu yang diputuskan hubungannya oleh pasangan. Ketika individu diputus maka ia secara sepihak langsung akan melihat bahwa dirinya adalah individu yang memiliki kekurangan sehingga orang yang disayanginya ”membuangnya”. Ia tidak layak untuk dipertahankan sebagai pasangan, ia merasa bahwa ia bukan pasangan yang baik. Perasaan bersalah lebih menguasai dirinya sehingga membuat simpulan bahwa dirinya adalah pihak yang bersalah dan menjadi penyebab putusnya hubungan. Pada fase ini individu dapat mengalami yang disebut kondisi self blame, yaitu kondisi menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab putusnya hubungan disertai dengan tingkat menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atau tidak pada proporsinya. Berdasarkan kajian adversity quotient (AQ) individu yang terlalu merasa bahwa dirinya adalah penyebab kesalahan dan harus bertanggungjawab sepenuhnya (origin & ownerhip) menyebabkan kemampuan untuk menghadapi masalah atau kesulitan menjadi berkurang atau kurang baik. Kajian adversity quotient memberikan gambaran bahwa individu yang memiliki AQ yang tinggi seharusnya memiliki origin dan ownership yang sewajarnya. Artinya dalam menghadapi suatu masalah atau kesulitan termasuk putus cinta, individu dapat menyadari bahwa ia juga berperan dalam putus cinta tersebut dan bertanggungjawab terhadap masalah yang dihadapi pada proporsi yang wajar.

Reaksi ketiga adalah retreat. Tahapan ini dicirikan dengan menolak kenyataan yang telah terjadi. Individu yang mengalami putus cinta biasanya akan menolak bahwa telah mengalami putus cinta meskipun pada kenyataannya telah mengalami putus cinta. Reaksi penolakan telah mengalami putus cinta adalah bentuk pertahanan diri (mekanisme pertahanan) untuk melindungi diri individu dari perasaan yang tidak nyaman. Putus cinta adalah kondisi tidak nyaman ketika pada dasarnya individu masih menyayangi pasangannya dan tidak ingin hubungan romantis yang telah dijalani berakhir. Karena ia tidak mampu mempertahankan hubungan romantis biasanya ia akan sedih dan kecewa. Untuk menghibur diri maka individu biasanya akan menyatakan bahwa dirinya tidak merasa sedih, untung putus cinta ia bisa melakukan banyak hal lain yang lebih berguna, ia merasa bahwa selama ini hubungan yang telah dijalani tidak bermanfaat. Intinya individu yang mengalami putus cinta umumnya menyatakan penolakan bahwa ia mengalami kekecewaan akibat putus cinta untuk melindungi diri dari ketidaknyamanan yang muncul dalam diri sendiri.

Mengapa individu yang mengalami putus cinta menunjukkan reaksi-reaksi tersebut? Karena individu yang mengalami putus cinta bergerak dari kondisi nyaman ke kondisi tidak nyaman. Individu memiliki kebutuhan afeksi, oleh karena itu ia menjalin hubungan romantis dengan pasangannya. Hubungan biasa dengan lawan jenis tidak bisa memenuhi kebutuhan afeksinya. Saat menjalin hubungan romantis ia mendapatkan pemuasan kebutuhan afeksi. Saat putus cinta dengan kata lain hubungan romantisnya berakhir dan ia sendiri tidak menghendakinya maka kondisi nyamannya dipaksa untuk bergerak ke arah tidak nyaman dengan ciri tidak ada lagi pemuasan kebutuhan afeksi yang didapatkan dari pasangan.

 

Sumber referensi :

 

Ogden, J. (1996). Health psychology : A textbook. Buckingham : Open University Press.

Yuwanto, L. (2010). Putus cinta : Kajian perspektif psikologi. Surabaya : Putra Media Nusantara

Update: 07-06-2011 | Dibaca 10695 kali | Download versi pdf: Reaksi-Umum-Putus-Cinta.pdf