Mengembalikan Esensi Lomba-lomba Peringatan Hari Kemerdekaan Sebagai Sarana Pembelajaran Karakter Perjuangan


  • 14-08-2015

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Hari kemerdekaan Republik Indonesia diperingati dengan berbagai macam cara. Mulai dari seremoni-seremoni seperti malam tasyakuran, upacara bendera, dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan atau di tempat-tempat yang menjadi area pertempuran atau perjuangan pahlawan bangsa. Selain seremoni-seremoni tersebut, yang khas pada peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah adanya berbagai macam lomba. Lomba balap karung, lomba memasukkan bendera ke botol, lomba tarik tambang, dan lomba panjat pinang merupakan beberapa macam lomba yang diadakan secara turun temurun lintas generasi. Turun temurun karena bentuk-bentuk lomba tersebut telah ada sebelumnya dan hingga sekarang masih dilakukan dan membudaya. Kalau lomba-lomba tersebut tidak diadakan seringkali dinilai tidak lengkap atau belum menggambarkan peringatan kemerdekaan. Lintas generasi karena pesertanya terdiri atas berbagai macam tahapan perkembangan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.

Pada dasarnya filosofi lomba-lomba tersebut tidak hanya sekadar bersenang-senang atau sekadar mengisi waktu luang. Tetapi aktivitas yang merupakan simbolisasi perjuangan pahlawan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Umumnya lomba-lomba diadakan sebelum tanggal 17 Agustus dan penyerahan berbagai macam hadiah bagi pemenang dilakukan pada tanggal 17 Agustus. Sebelum 17 Agustus peserta lomba diharapkan berusaha mengeluarkan kemampuan-kemampuannya berjuang meraih kemenangan dan setelahnya baru mendapatkan hasilnya. Lomba-lomba peringatan kemerdekaan Republik Indonesia merupakan filosofi yang tepat untuk mengenang perjuangan pahlawan bangsa. Selain sarana mengenang perjuangan, lomba-lomba yang diadakan juga dapat menjadi sarana pembelajaran karakter perjuangan pahlawan bangsa. Karakter perjuangan pahlawan bangsa antara lain berani karena benar, jujur, ulet atau tidak mengenal menyerah, disiplin, kreatif, bekerjasama, menghormati orang lain, mengenal potensi diri, dan karakter positif lainnya. Untuk menjadi pemenang harus memiliki karakter positif tersebut.

Sayangnya, tidak sedikit yang memaknai lomba-lomba peringatan kemerdekaan Republik Indonesia sekadar aktivitas hura-hura yang tidak memiliki makna kecuali yang penting ada kegiatan dan terdapat keramaian. Tidak sedikit juga yang lebih berorientasi pada hadiah lombanya atau kemenangan dalam lomba dibandingkan dengan proses menjalani lomba-lomba. Dengan demikian peserta lomba malah berlomba meraih kemenangan, sehingga perilaku yang ditampilkan menjadi tidak tepat. Beberapa contoh adanya tawuran atau perkelahian ketika lomba bola voli, sepakbola, dan yang lainnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena satu sama lain merasa tidak mau kalah dalam lomba, kalau kalah lomba harga diri menjadi turun, sehingga orientasinya bukan lagi di proses yang positif tetapi orientasinya kemenangan. Selain itu demi mencapai kemenangan peserta lomba juga menggunakan berbagai cara, termasuk cara yang tidak diperbolehkan alias curang. Misalnya mencuri start dalam lomba balap karung, lomba lari bendera, dan bentuk-bentuk pelanggaran aturan yang lainnya. Sayangnya ketika terjadi perilaku kecurangan dalam lomba, panitia tidak bertindak tegas dengan membiarkan perilaku curang tersebut dilakukan. Meskipun curang ketika menjadi pemenang, tetap dimenangkan. Hal-hal inilah yang kemudian mengurangi esensi lomba-lomba peringatan perjuangan pahlawan bangsa. Lomba-lomba menjadi ajang kompetisi yang mempertaruhkan gengsi dan harga diri.

Seharusnya lomba-lomba yang diadakan sebagai bentuk peringatan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi sarana yang tepat mempelajari karakter perjuangan pahlawan bangsa dalam meraih kemerdekaan terutama bagi anak-anak dan remaja sebagai generasi muda penerus perjuangan bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Orang-orang dewasa sebagai panitia lomba dapat merancang lomba beserta aturan-aturan yang memang membentuk karakter positif dan menerapkannya secara konsisten. Peserta dewasa dapat memberikan contoh positif bagi anak-anak dan remaja dalam berperilaku ketika mengikuti lomba. Dengan demikian pelaksanaan lomba peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tetap pada esensinya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi refleksi bagi kita. Dirgahayu Indonesiaku, Merdeka!