Mengenal Kekerasan Dalam Berbagai Jenis Hubungan Romantis


  • 15-09-2014

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Hubungan romantis merupakan relasi yang digambarkan dengan ciri adanya intimacy, passion, dan komitmen yang kemudian disebut dengan cinta. Hubungan romantis dapat terjadi dalam bentuk ikatan pernikahan dan berpacaran. Tujuan dalam berbagai bentuk hubungan romantis tersebut serupa yaitu adanya berbagi afeksi sehingga saling menyayangi antar pasangan. Sebagai catatan, pasangan yang terbentuk dapat berupa pasangan heteroseksual ataupun homoseksual yang secara ideal berupaya mencapai pemenuhan kebutuhan afeksi. Namun, dalam hubungan romantis, seringkali terjadi perilaku yang tidak seharusnya terjadi seperti memukul, melecehkan, dan mengintimadasi pasangan yang dikenal dengan perilaku kekerasan. Dalam hubungan romantis terdapat beberapa bentuk kekerasan yang terjadi yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual, dan kekerasan finansial. Berikut akan dibahas secara ringkas beberapa jenis kekerasan dalam hubungan romantis yang umumnya dianggap wajar namun seharusnya tidak demikian.

Kekerasan fisik, dapat berupa memukul, menampar, melukai tubuh atau secara fisik pasangan termasuk dalam jenis kekerasan fisik. Biasanya akan mudah terlihat dampak dari kekerasan fisik, karena terdapat bekas (product permanent) dari kekerasan tersebut secara fisik. Biasanya korban akan menutupi bekas kekerasan fisik dengan aksesoris misalnya dengan menggunakan kerudung, make up, ataupun tattoo sehingga orang lain tidak melihatnya. Kekerasan psikologis biasanya dalam bentuk dihina, dipanggil dengan panggilan yang tidak menyenangkan, dikontrol secara penuh dalam relasi seperti tidak boleh berhubungan dengan orang tertentu, atau melakukan aktivitas tertentu seperti perilaku posesif.

Kekerasan seksual, bentuknya seperti meraba bagian tubuh tertentu, memaksa melakukan hubungan seksual, melihat bagian tubuh yang sensitif, dan bentuk-bentuk sejenisnya terutama pada bentuk hubungan romantis berpacaran. Kekerasan seksual juga dapat terjadi dalam hubungan romantis pernikahan, pertanyaannya bukankah dalam pernikahan, melakukan aktivitas seksual dengan pasangan merupakan bentuk perilaku legal? Benar, melakukan aktivitas seksual dalam hubungan pernikahan merupakan perilaku yang legal, namun apabila pasangan tidak menginginkannya maka termasuk kekerasan seksual. Misalnya saat pasangan lelah, dan menolak melakukan hubungan seksual, ataupun saat pasangan hamil dan merasa tidak nyaman melakukan hubungan seksual namun dipaksa melakukan sudah termasuk bagian dari kekerasan seksual.

Dalam hubungan romantis berpacaran, saling mentraktir pasangan sesuai dengan kesepakatan tanpa paksaan merupakan hal yang wajar. Namun apabila sudah ada paksaan untuk mentraktir, atau membiayai hidup pasangan dengan paksaan maka sudah termasuk bagian kekerasan finansial dalam hubungan romantis berpacaran. Satu lagi yang mungkin sering terjadi namun kita tidak menyadari, meminjam uang dari pasangan dan berjanji mengembalikan, ternyata tidak memenuhi janji mengembalikan tanpa persetujuan, juga dapat menjadi bagian kekerasan finansial. Kekerasan finansial dalam hubungan romantis pernikahan, umumnya terjadi dalam bentuk tidak memberi nafkah hidup secara materi yang menjadi tanggungjawab terhadap pasangan. Misalnya dalam kesepakatan salah satu pasangan tidak bekerja untuk mengurus rumah tangga, sehingga salah satu pasangan yang bekerja, namun pasangan yang bekerja tidak menafkahi pasangannya. Bagaimana dengan pasangan yang mendapatkan amanah untuk memegang kartu ATM ataupun Kartu Kredit dari pasangan beserta semua akses Personal Identified Number namun menggunakannya tanpa seijin dan sepengetahuan pasangan? Tentu saja hal tersebut termasuk dalam kekerasan finansial.

Beberapa pelaku menyadari bahwa kekerasan merupakan perilaku yang seharusnya tidak dilakukan, tetapi dari mereka tetap saja melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Banyak faktor yang menjadi predisposisi perilaku kekerasan dalam hubungan romantis. Beberapa diantaranya terkait dengan pengalaman masa lalu, berdasarkan kajian literatur, hasil penelitian, dan fenomena yang ada, pelaku kekerasan pernah mengalami kekerasan dalam fase kehidupan sebelumnya, misalnya mendapatkan kekerasan dari orangtua, keluarga, teman, atau pasangan sebelumnya. Selain itu, karakter individu juga turut menentukan munculnya perilaku kekerasan dalam hubungan romantis. Beberapa karakter individu pelaku kekerasan biasanya mudah mengalami depresi, stress, exhaustion, kontrol diri yang rendah, atribusi eksternal, fortitudeyang rendah, neurotic, dan copingyang negatif. Selain faktor pengalaman dan karakter individu, faktor lingkungan juga memiliki peran membentuk perilaku kekerasan. Lingkungan yang bermusuhan, kurangnya social support, tingkat kompetisi yang tidak sehat, dan seringkali terjadi kekerasan merupakan predisposisi yang kuat untuk menstimulasi munculnya perilaku kekerasan.

Mindsetindividu yang berbeda terhadap kekerasan ternyata juga menentukan perilaku kekerasan dalam dua bentuk. Bentuk pertama, ketika individu menilai perilaku kekerasan dalam hubungan romantis sebagai perilaku yang wajar sebagai penyeimbang afeksi maka perilaku kekerasan akan cenderung dilakukan. Kedua, bagaimana individu memberi pengertian terkait perilaku kekerasan. Ketika individu memiliki pengertian bahwa kekerasan sebagai perilaku yang dapat berdampak buruk pada pasangan, selama pasangan belum mengalami dampak buruk maka perilaku tersebut akan dilakukan. Berbeda dengan individu yang memiliki pengertian bahwa perilaku kekerasan merupakan pelanggaran hak asasi manusia, maka perilaku kekerasan tidak akan dilakukan terhadap pasangan. Itulah yang menyebabkan mengapa meskipun individu memiliki persepsi bahwa kekerasan merupakan perilaku yang seharusnya tidak dilakukan, namun ternyata masih ada yang melakukannya.

Kekerasan dalam bentuk apapun terhadap pasangan, pasti memiliki dampak meskipun kecil. Korban biasanya dan pelaku biasanya akan meminimalkan perasaan negatif akibat perilaku kekerasan selama masih ada afeksi terhadap pasangan. Kekerasan dalam hubungan romantis belum tentu akan membuat relasi terputus, namun yang pasti akan mengurangi kekuatan afeksi antar pasangan. Jangan selalu mengharapkan dan yakin pasangan yang melakukan kekerasan selama hubungan berpacaran akan berhenti melakukan kekerasan ketika menikah. Juga jangan terlalu mengharapkan kekerasan yang dilakukan pasangan saat menikah akan berhenti ketika usia bertambah. Harapan dan keyakinan yang seperti itulah yang biasanya banyak dimiliki korban kekerasan yang kemudian hanya berdiam diri terhadap kekerasan yang dialami.

Kekerasan dalam hubungan romantis bukan merupakan perilaku yang wajar yang seharusnya tidak dapat diterima, dibiarkan, dan harus dicegah dan ditangani.Mari kita coba bercermin dalam hubungan romantis kita apakah terdapat perilaku kekerasan, baik sebagai korban atau pelaku yang mungkin tidak kita sadari.

image: ilustrasi

Update: 15-09-2014 | Dibaca 5910 kali | Download versi pdf: Mengenal-Kekerasan-Dalam--Berbagai-Jenis-Hubungan-Romantis.pdf