Meneladani Kartini, Peran Perempuan Sebagai Soko Guru Peradaban


  • 21-04-2014

Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Setiap tahun tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini, sebagai bentuk penghormatan terhadap R. A Kartini yang telah memperjuangkan kemajuan kaum perempuan Indonesia. Selalu ada keteladanan R. A Kartini yang dapat kita pelajari untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Salah satu keteladanan yang diberikan adalah pentingnya peran perempuan dalam pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak. Kartini adalah tokoh perempuan yang sangat mencita-citakan kesetaraan kemajuan bagi perempuan Indonesia. Munculnya cita-cita ini tidak terlepas dari latar belakang keluarga dan kehidupan Kartini. Kartini merupakan cucu Bupati Demak, Pangeran Ario Tjondronegoro. Pangeran Ario Tjondronegoro dikenal sebagai Bupati pertama yang mendidik anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan dengan pendidikan barat. Prinsipnya melalui pendidikan generasi berikut akan mengalami kemajuan, dan prinsip tersebut benar adanya. Salah satu penyebab kemerdekaan bangsa Indonesia adalah adanya pendidikan yang cukup, sehingga terdapat tokoh-tokoh intelektual dan berkarakter yang memperjuangkan kemerdekaan melalui beberapa jalur konferensi ataupun mediasi tidak hanya secara fisik menggunakan senjata.

Kartini, dalam surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon tertanggal 21 Januari 1901 menyatakan betapa penting peran perempuan dalam memajukan peradaban dan moralitas manusia. Pendidikan merupakan hal yang penting untuk membentuk intelektual atau kecerdasan yang tinggi, namun kecerdasan yang tinggi belum menjamin individu memiliki budi pekerti yang luhur. Katini menyatakan pentingnya pendidikan intelektual dan pendidikan karakter. Kartini juga menyatakan bahwa perempuan merupakan Soko Guru Peradaban, artinya melalui didikan perempuan, anak-anak menerima pendidikan pertama, belajar merasakan, belajar berpikir, dan belajar berkata-kata. Sebagai pendidik pertama untuk anak-anak, maka perempuan harus berpendidikan, pada masa Kartini lebih ditekankan pada pendidikan intelektual karena belum banyak perempuan yang mendapatkan pendidikan intelektual namun pendidikan karakter di dalam keluarga sudah diberikan sehingga membuat perempuan memiliki karakter luhur. Bandingkan dengan masa sekarang, mimpi Kartini dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar tertanggal 20 Mei 1901 bahwa perempuan akan mendapatkan pendidkan seni, ilmu pengetahuan, ilmu kesehatan, dan ilmu alam telah menjadi kenyataan. Dengan demikian, perempuan seharusnya mampu mendidik anaknya dengan baik secara intelektual di dalam keluarga sebagai penunjang pendidikan intelektual anak di sekolah formal. Namun, bagaimana dengan pendidikan karakter? Hal itulah yang membedakan masa Kartini dengan masa sekarang. Keseimbangan pendidikan intelektual dan karakter yang dicita-citakan Kartini masih belum terwujud. Pendidikan intelektual semakin maju namun tidak disertai dengan pendidikan karakter yang memadai. Saat ini telah terdapat pendidikan karakter secara formal di sekolah, namun sebagian besar manfaatnya hanya sebatas di tingkat kognitif sehingga dalam perilaku belum berdampak besar. Sehingga bangsa Indonesia yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah, sopan santun dan berbudi pekerti luhur menjadi bangsa yang saat ini mengalami krisis moralitas.

Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa peran perempuan dalam peradapan sangat penting. Perempuan harus berpendidikan secara intelektual dan juga secara karakter sehingga mampu memberikan pendidikan yang memadai secara intelektual dan karakter. Perempuan sebagai pendidik anak-anak pertama (mulai dari kandungan hingga anak lahir) dapat mengajarkan sejak dini mengenai pendidikan karakter di dalam keluarga karena sifat parenting yang kuat yang dimiliki perempuan. Dengan adanya kesetaraan kemajuan antara laki-laki dan perempuan, tidak harus membuat perempuan kehilangan sifat dominan parenting-nya (hal ini bukan berarti laki-laki tidak memiliki tanggung jawab berperan dalam pendidikan karakter anak) Kesetaraan kemajuan berarti laki-laki tetap tidak boleh kehilangan sifat dominan dalam mencari nafkah dan peran ayah yang lainnya namun mulai menyeimbangkan dengan peran domestik, Sedangkan perempuan tidak boleh kehilangan sifat dominan parentingdan peran ibu dengan mulai menyeimbangkan peran-peran yang lain di luar kehidupan keluarga untuk kemajuan diri. Sekali lagi perempuan adalah Soko Guru Peradaban, yang memiliki peran besar bagi kemajuan atau kemunduran generasi berikutnya.

Update: 21-04-2014 | Dibaca 14138 kali | Download versi pdf: Meneladani-Kartini--Peran-Perempuan-Sebagai--Soko-Guru-Peradaban.pdf