Barangkali disana ada jawabnya. Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau Alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. (courtesy : Berita kepada Kawan, Ebiet G Ade)

Indonesia kembali menangis. Musibah dan bencana seakan tak berhenti menghinggapi bumi pertiwi ini. Tragedi Situ Gintung, banjir bandang di Sumatera Barat serta luapan sungai Bengawan Solo menyebabkan kota Lamongan banjir. Setidaknya bencana ini mampu meluluhlantakan infrastruktur kegiatan warga sekitar.

Menanggapi musibah yang terjadi di Lamongan, LPPM Ubaya bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Surabaya (BEMUS), melaksanakan bakti sosial. Kegiatan yang diselenggarakan pada 31 Maret lalu, baksos ini berlokasi di Desa Centini Kec. Laren Lamongan.
Menurut Prof Dr  Jatie K.Poedjibudojo, baksos ini merupakan wujud prihatin kita akan bencana banjir di lamongan. “ Kita bersyukur bisa bertemu disini. Jangan dinilai dari uangnya tapi rasa kasih sayang yang kita berikan,” tambahnya. Kegiatan mulia ini merupakan wujud Tridharma universitas ini sebagai perguruan tinggi. Ubaya sendiri ketika itu memberikan 1984 paket alat sekolah. Turut hadir pula Ali Saraji selaku Kepala Desa setempat dan perwakilan sekolah SD,SMP,SMA dari daerah sekitar.
Datangnya musibah ini tidak menyurutkan semangat belajar para pelajar untuk tetap bersekolah. “ 393 siswa sekolah kami di pindah selama satu minggu ke sebuah SD di Desa Kandal,” terang Purwanto S Pd (SMP Negeri 2 Laren). Para siswa tersebut diungsikan akibat putusnya tanggul desa akibat banjir.

Menurut salah satu tenaga pendidik sekolah itu, diharapkan dengan bantuan yang diberikan Ubaya dapat meningkatkan kembali semangat belajar bagi mereka yang tertimpa musibah. Melalui baksos ini diharapkan dapat membantu sesama yang mengalami musibah serta meningkatkan persaudaraan antar umat manusia untuk saling berinteraksi. (zha/wu)