Maraknya isu SARA yang berkembang saat ini memunculkan keprihatinan dalam kehidupan berbangsa. Berangkat dari hal itu, 19 penulis dari beragam latar belakang memutuskan membuat buku berjudul Saya Tionghoa Saya Indonesia.

Bertepatan dengan hari ulang tahun RI ke-72 kemarin (17/8), buku tersebut resmi diluncurkan dan didiskusikan. Mengambil tempat di Aula Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, kegiatan bedah buku tersebut diselenggarakan oleh Writing Agent Statistic Assistance Center (SAC) Ubaya.

Menurut Editor buku Listyo Yuwanto, buku yang diterbitkan oleh Dwi Putra Pustaka itu banyak mengupas kegundahan hati etnis Tionghoa. Terutama soal identitas kebangsaan. ”Etnis Tionghoa paling diragukan ke-Indonesia-annya. Padahal anggapan itu tidak benar,” katanya.

Listyo menambahkan, berdasarkan penelitiannya, anggapan etnis Tionghoa diragukan nasionalismenya adalah karena banyak sebab. Di antaranya, berdasarkan asal usul etnis Tionghoa yang datang dari Tiongkok, perbedaan fisik, perbedaan nama dan budaya. ”Tapi itu semua tentu ada jawabannya. Tidak bisa dijadikan patokan bahwa etnis Tionghoa tidak nasionalisme,” jelas dia.

Buku itu ujar pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut tidak memiliki tujuan negatif, malah sebaliknya. Untuk merekatkan kembali kemungkinan-kemungkinan penyebab keretakan persatuan dan kesatuan sesama warga negara Indonesia dengan dasar identitas etnis.

Selain tulisan Listyo yang berjudul Pembelajaran Pengelolaan Keberagaman Tionghoa Jawa dari Loenpia Semarang, total ada 18 tulisan lain. Masing-masing memiliki sudut pandang dalam memaknai nasionalisme.

Seperti Listyo yang mengambil contoh lewat kuliner. ”Apabila loenpia yang merupakan salah satu karya etnis Tionghoa dapat diterima di Indonesia mengapa keberadaan etnisnya sendiri masih sering dipermasalahkan? Apabila loenpia dijajar bersama dengan makanan khas Indonesia lainnya di satu tempat dan tidak dipisah-pisahkan tempatnya seharusnya etnis Tionghoa juga mendapatkan tempat yang sama di Indonesia,” tulis Listyo dalam buku itu.

Beberapa penulis yang juga ikut menyumbangkan buah pikirannya adalah Stefanie Levina, Vivian Halim, Patricia Febriani Utomo, Harry Zhang, Yuliana Myrosa Tjiang, Kristianto Batuadji, Sonia Utari Alatan, Anastasia Dewi, Cyntia Maria, Heidi Patricia, Evi Yemima, Yunita Winardi Tjiong, Hendri Wayne, Depi Ratnasari Prayogo, Claudia Fergy Raintung, Agnes Claudia, Cicilia Hendarto, dan Andini Atmaja. (JPNN/pda)

jppnn.com