MENURUT Valencia Penny, banyak orang yang berpendapat bahwa grafologi seperti ilmu klenik. Tidak pernah kenal sebelumnya, tetapi bisa tahu atau menebak karakter orang. Apalagi, sebagian besar tebakan tersebut benar. "Padahal, itu memang ada ilmunya," ujar ibu dua anak tersebut.

Sekilas saja melihat tulisan tangan orang, Penny bisa langsung menebak karakternya. Kadang, dia juga memancing dengan pertanyaan ringan seputar tulisan. "Kok tulisannya kecil? Kenapa hurufnya kecil-kecil?" tanyanya ketika Jawa Pos mewawancarainya Rabu (23/8).

Melihat wajah bingung lawan bicaranya, Penny pun menjelaskan. Berdasar ilmu grafologi yang dipelajari di Cambridge School of Graphology, orang dengan tulisan tangan kecil biasanya lebih suka di belakang layar. Mayoritas masyarakat Indonesia memiliki tulisan tangan yang kecil-kecil.

Sesi wawancara pun berlanjut Wartawan Jawa Pos kembali menuliskan setiap penjelasan yang diberikan alumnus PPBMT Akuntansi (sekarang Universitas Surabaya) itu. Baru sebentar, Penny lagi-lagi bertanya spontan. "Huruf T-nya selalu nyambung dengan huruf berikutnya ya?" tanyanya sambil memperhatikan tulisan.

Menurut dia, orang yang biasa menulis huruf T menyambung dengan huruf berikutnya termasuk orang yang cekatan. Bisa diajak kerja cepat. Tetapi tidak cocok jadi akuntan. Bisa-bisa salah semua perhitungannya.

Kemudian, Penny pun memberikan contoh-contoh sederhana. Misalnya, tulisan huruf "i" dengan titik di atasnya. Berarti orang tersebut tidak suka hal monoton dan teliti. Kalau huruf "d, a, g, o" nya terbuka berarti termasuk orang yang pandai berbicara. Cocok menjadi staf public relation atau humas.

Meski demikian, model penulisan satu huruf saja tidak bisa dijadikan acuan untuk membaca karakter orang. Ada banyak faktor yang dibaca Penny. Antara lain, penekanan tulisan, goresan, bentuk satu huruf dengan yang lainnya, hingga jarak antarkata. Nah, bagaimana awal Penny terlibat grafologi? Semua bermula pada 2009. Kala itu Penny yang mempunyai dua anak laki-laki ingin lebih mengenal karakter anak-anaknya. Sebagai orang tua, dia tentu ingin sang buah hati tumbuh dengan cara yang baik dan berkembang sesuai bakat serta kemampuannya.

Sebelumnya, perempuan kelahiran Probolinggo, 5 September 1972, itu aktif mengikuti seminar parenting. Namun, semakin sering ikut, dia malah semakin takut. Banyak seminar yang menuturkan ngerinya perkembangan dunia saat ini. Dari situ, Penny memutuskan berhenti dan mencari cara lain.

Awalnya sempat tebersit di pikirannya untuk kuliah lagi. Ambil jurusan psikologi. Namun, kala itu dia sudah berburu dengan waktu. Anak sulungnya sudah kelas VI SD. Tentu tidak banyak waktu untuk mengejar sampai sang anak mencapai umur remaja. "Nanti sa ya lulus anak saya sudah telanjur dewasa," ungkapnya.

Akhirnya, dia memutuskan mempelajari ilmu grafologi. Menurut dia, cara itu paling cepat dan efektif. Istri Sugih Jono tersebut lantas mengikuti kelas singkat selama dua hari. Pengajarnya adalah seorang PhD bidang arkeologi yang mendapatkan beasiswa dari Australia.

"Dua kali ikut seminar saya masih belum bisa baca tulisan," paparnya. Tidak ingin terus coba-coba, pada 2010 Penny beralih pada ilmu grafologi dari Amerika Serikat yang menurutnya lebih terstruktur. Setelah di kirim tiga kardus buku, dia masih merasa belum benar-benar menguasai. Sebab, tidak ada tutor yang mendampinginya belajar.

Setahun kemudian, Penny kembali beralih. Pilihannya jatuh pada Cambridge School of Graphology. Pendidikan jarak jauh yang akhir nya ditempuh sejak 2011. Empat tahun se telahnya, dia lulus sebagai grafolog Indonesia alumnus ke-2 kampus tersebut.

Dengan ilmu yang dipelajari dari kampus Inggris itu, Penny bisa mengenal lebih dalam tentang karakter anak-anaknya. Si sulung, Denilson, termasuk anak yang tertutup. Untuk mengerjakan sesuatu, dia butuh step-by-step. Adiknya, Davidson, cukup terbuka. Tetapi juga konvensional.

Dengan mengetahui karakter anak, Penny jadi tahu harus menerapkan pola pendidikan yang seperti apa. Dia juga bisa mengarahkan bidang apa yang harus diambil ketika anak-anaknya mulai memasuki perkuliahan.

Sukses mendidik anak, permintaan dari para orang tua pun semakin banyak. Sayangnya, mereka lebih suka terima jadi. Tinggal bawa tulisan sang anak, lalu diserahkan ke Penny. Selanjutnya, dia menganalisis karakter anak tersebut.

Saking banyaknya permintaan, Penny lantas membuka kelas. Tujuannya, para orang tua tidak sekadar menerima masukan. Tetapi juga bisa belajar sendiri memahami karakter anak-anaknya melalui tulisan.

Bagi Penny, mempelajari grafologi membawa keuntungan tersendiri. Yakni, dia lebih tahu perkembangan dunia. Sebab, dia sering diminta perusahaan untuk menganalisis calon karyawan baru.

Penny juga berhasil mengungkap kasus pencurian uang dalam perusahaan. Mulai yang bernilai puluhan juta hingga miliaran rupiah.

Biasanya, Penny butuh waktu tidak sampai 10 menit untuk mengungkap berbagai kasus tersebut. Caranya, orang-orang yang terlibat dalam kasus itu dikumpulkan dalam satu ruangan. Kemudian, mereka diminta menuliskan kasus yang terjadi. Si pelaku akan menunjukkan tanda dalam tulisannya. "Ada tekanan yang berbeda ketika orang menulis tentang dirinya sendiri. Apalagi sebagai pelaku kejahatan," jelasnya.

Selain kasus pencurian dalam perusahaan, Penny pernah membantu menganalisis kasus pelecehan seksual terhadap anak. Juga, berburu tulisan tangan di Rutan Medaeng. Meski demikian, dia tidak ingin terlibat dalam masalah yang ditangani kepolisian. Kecuali jika ada perusahaan atau perseorangan yang meminta bantuannya.

Menurut grafolog Indonesia pertama di The Association of Qualified Graphologist itu, tulisan tangan adalah tulisan otak. Apa yang dirasakan orang akan terlihat dalam tulisannya. Biasanya, hal tersebut akurat selama dua tahun. Karena itu, untuk memahami karakter diri, sebaiknya tes tulisan tangan setiap dua tahun sekali.

Untuk lebih mengembangkan diri, Penny juga mengajari suami dan anak-anaknya ilmu grafologi. Dengan melihat tulisan, mereka jadi tahu kelebihan dan kekurangannya sendiri. Termasuk memilih pergaulan yang benar. Apalagi soal jodoh. "Biar nggak salah cari istri," ucapnya, lantas tertawa.

Penny menuturkan, karakter seseorang bisa diubah dengan cara mengubah tulisan. Asalkan bisa menjaga komitmen dan kemauan untuk terus berkembang. Salah satu caranya, menulis setiap hari. Bisa juga ketika akan tidur menuliskan dulu kegiatan dalam sehari dan apa yang disyukuri. Dia berharap ke
depan semakin banyak orang yang mempelajari ilmu grafologi. "Ayo berubah jadi lebih baik," tutur penulis buku Change Your Handwriting Change Your Life itu. (*/c15/dos)

Jawa Pos, 27 Agustus 2017