Bagaimana denganperkembanganprofesi jurnalis/wartawan di Indonesia?
 

Sabtu, 11 Maret 2017 lalu, Tim Pers dan Meds UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) Ubaya mengadakan Seminar Jurnalistik dengan tema “Let’s Break Your Written Block with Your Craft”.Acara yang menjadi salah satu rangkaian dari MetaFest (Mega Edutainment Festival) ini, mengundang Khafidlul Ulum yang merupakan salah satu jurnalis profesinal Jawa Pos, menjadi guest speaker. Menurut Denmas Alif yang saat itu bertugas menjadi ketua pelaksana acara Seminar Jurnalistik tersebut, “Jurnalistik itu bersifat universal. Tema yang kita angkat disini juga bermaksud untuk mengajak anak-anak muda untuk tidak kekurangan inspirasi dalam menulis”, jelasnya saat ditemui di tengah acara seminar.

Di awal acara, Ulum menjelaskan bagaimana realita yang ada terkait kehidupan wartawan. “Wartawan itu harus menjunjung tinggi integritas, agar tidak masuk ke lingkaran hitam”, ujarnya. Lingkaran hitam yang dimaksudkan disini adalah godaan wartawan, yang salah satunya ialah suap-menyuap. “Jika tidak memiliki integritas, kita akan disetir oleh narasumber”, tambahnya. Alhasil, para pewarta yang sudah mencoba menegakkan independensi itu akhirnya kalah akibat kekuasan elite dari pemilik modal dari media tempat jurnalis tersebut bekerja. Hal ini dinilai sangatlah memprihatinkan.“Begitulah kehidupan wartawan. Tidak selamanya enak, dan perlu berpegang teguh prinsip jika kita sudah berkomitmen untuk berada di jalan lurus”, paparUlum.

Pada acara seminar jurnalistik tersebut, tidak hanya wawasan jurnalistik secara teori saja yang didapatkan, para peserta pun diajak untuk praktek langsung membuat artikel sesuai dengan struktur artikel yang ada di koran pada umumnya. Di tengah acara, dijelaskan pula mengenai tips-tips menulis berita, menentukan angle, cara menghadapi narasumber, hingga apa saja persiapan saat hendak melakukan wawancara. “Kita harus menentukan narasumber yang tepat, sesuai dengan konten berita yang akan diangkat. Selain itu, jika menemukan narasumber yang pelit omongan, dipancing aja dengan persoalan-persoalan” ujarnya.

Seminar yang dimulai pada pukul 09.30 dan berakhir pukul 14.30 ini, juga menjual tiket on the spot. “Jadi, kita buka tiket on the spot 20 dan non on the spot 50” ujar Indah, salah satu mahasiswa Fakultas Farmasi angkatan 2014 yang juga tergabung menjadi panitia Seminar Jurnalistik tersebut. Peserta yang datang pun tidak hanya dari Surabaya, melainkan dari Lamongan, dan Gresik. Mahasiswa luar kampus Ubaya pun juga turut hadir, salah satunya mahasiswa dari UPN Surabaya (Universitas Pembangunan Nasional) serta UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Acara pun ditutup dengan penyerahan cinderamatadari pihak UKKI kepada guest speaker, Khafidlul Ulum.

Kendati banyak kendala terjadi, masih banyak jurnalis-jurnalis yang masih teguh terhadap komitmen dalam meletakan kodeetikjurnalistik di atas puncak aturan profesi tersebut. Seperti ksatria samurai yang rela mati-matian untuk menjaga suatu restorasinya, begitu juga jurnalis yang tetap menegakkan independensi dalam menyajikan berita kepada masyarakat. Dukungan dari masyarakat tentu sangat diperlukan untuk tetap meyakinkan para pewarta untuk tetap bersemangat dalam memberikan informasi secara aktual dan terpercaya. (azn)