Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperingati Hari Kartini. Jumat, 24 April 2015 lalu, KB Sanggar Kreativitas dan TPA Rumah Ceria memperingatinya dengan menggelar fashion show baju adat dan pembacaan dongeng. Acara yang diselenggarakan oleh Divisi Pendidikan Anak - PKLP Ubaya ini diadakan di Ruang Serbaguna Fakultas Psikologi (SGFP) pada pukul 10.00 WIB dan dihadiri oleh semua murid KB Sanggar Kreativitas dan TPA Rumah Ceria beserta orang tuanya.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” secara bersama-sama dan doa pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan acara fashion show. Baju adat yang dipakaioleh anak-anak pun sangat bervariasi. Ada yang memakai baju adat Bali, Makassar, Madura, dan lain sebagainya. Semua murid secara bergiliran berlenggak-lenggok di atas panggung dan berpose untuk difoto dan dinilai oleh juri. Yang menjadi juri untuk fashion show adalah Shinta Oktaviani, S.Psi., selaku Kepala KB Sanggar Kreativitas dan Ivonne Edrika, S.Psi., selaku Koordinator Divisi Pendidikan Anak dan Kepala Divisi TPA.

Usai fashion show, sambil menunggu hasil penilaian juri untuk 10 juara, dilanjutkan dengan pembacaaan dongeng untuk semua murid. Dongeng yang dibawakan dikemas dengan nuansa apik khas anak-anak, dilengkapi dengan boneka sarung tangan sebagai properti pendukung. Para murid juga duduk dengan manis sambil mendengarkan cerita yang dibawakan. “Harapannya anak-anak dapat mengenal budaya Indonesia dan mengenal salah satu pahlawannya juga, yaitu R.A. Kartini,” tutur Ivonne sambil tersenyum. Shinta juga menambahkan bawha mereka ingin menanamkan nilai moral dan mengenalkan emansipasi wanita pada anak-anak usia dini lewat dongeng yang dibawakan.

Meski acara ini rutin diadakan setiap tahunnya, namun acara ini selalu dikemas dengan konsep yang variatif. Terlihat tak hanya murid saja yang antusias mengikuti acara ini, namun orang tua murid juga turut antusias. Seperti Maria, orang tua dari Nathanael Orso yang beranggapan bahwa acara diadakan ini lucu dan seru walaupun sedikit ribet, karena belum tentu anak mau dipakaikan baju adat. “Mungkin kedepannya lebih baik yang ada di dalam ruangan hanya anak-anak saja, jadi orang tua hanya menunggu dan mengamati dari luar agar tidak terlalu banyak orang di dalam ruangan, atau orang tua mengamati dari jauh saja,” papar Maria. (frs)