Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Budaya antri sepertinya masih jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Saling serobot dan membuat antrian baru meskipun sudah ada jalur antrian sehingga membuat penumpukan antrian dan terjadilah antrian yang tidak tertib merupakan ciri khas mengantri di Indonesia. Mengantri seolah menjadi aktivitas yang tidak menyenangkan, mengapa hal tersebut bisa demikian?. Apakah karakter orang Indonesia yang memang tidak berdisiplin dan penghargaan terhadap orang lain rendah sehingga membuat antrian sulit sekali tertib?. Itulah salah satu penyebabnya, namun sistem atau aturan antrian juga menjadi penyebab. Mengacu pada prinsip reciprocal determinismyang dikemukakan Albert Bandura, perilaku individu tergantung pada interaksi timbal balik antara individu, lingkungan.

Kedisiplinan masyarakat Indonesia memang rendah, dan kita harus jujur mengakuinya karena sudah banyak bukti konkret tentang hal tersebut. Kemudian penghargaan terhadap orang lain makin kurang, tampilannya ingin dihargai tetapi tidak bisa menghargai orang lain. Hal-hal seperti ini juga makin banyak buktinya, penghargaan terhadap orang lain lebih didasarkan pada siapa orangnya dengan embel-embel identitas yang melekat pada orang tersebut. Penghargaan model tersebut sesuai dengan Cultural Dimensions Theoryyang dikemukakan Geert Hofstede dalam dimensi power distanceyang menggambarkan penghargaan terhadap individu dalam masyarakat didasarkan pada identitas atau status. Dengan demikian wajar apabila dalam mengantri banyak yang menyerobot antrian karena tidak sabar, karena dirinya ingin cepat, dan tidak menghargai orang lain yang telah mengantri.

Gambaran masyarakat Indonesia yang lebih mengutamakan diri sendiri sebenarnya merupakan pergeseran dari budaya sebelumnya yang lebih mengutamakan kepentingan bersama demi keharmonisan sosial. Mengacu pada Cultural Dimensions Theoryyang dikemukakan Geert Hofstede dalam dimensi Indulgance, masyarakat Indonesia termasuk pada kategori restraintyang artinya perilaku-perilaku individu dalam masyarakat mengacu pada norma dan keharmonisan sosial. Namun mengapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satunya karena penegakan aturan di Indonesia tidak dilakukan secara jelas dan tegas demikian juga dalam aturan mengantri.

Seringkali kita melihat dalam sebuah antrian panjang, telah terdapat orang-orang yang mengantri dengan tertib dalam waktu yang lama. Namun ketika terdapat orang-orang yang kemudian menyerobot antrian, apakah ada konsekuensi terhadap orang tersebut? Sangat sering orang yang menyerobot antrian mendapatkan pelayanan terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang mengantri. Bagaimana rasanya orang-orang yang sudah mengantri? Jengkel, marah, dan suasana emosi negatif lainnya, dan hal inilah yang menstimulasi orang-orang yang awalnya mengantri dengan tertib kemudian ikut-ikutan menyerobot dan rusaklah antrian yang awalnya tertib tadi.

Bandingkan dengan sistem antrian yang ada di beberapa negara yang terkenal dengan kedisiplinan dan ketertiban yang tinggi. Orang-orang yang menyerobot antrian mendapatkan sindiran dari orang-orang yang telah mengantri terlebih dahulu. Bahkan orang-orang yang mengantri diam saja ketika ada penyerobot bukan berarti tidak peduli namun karena mereka mengetahui bahwa penyerobot antrian tidak akan mendapatkan pelayanan. Sistemlah yang membuat tertib mengantri.

Indonesia membutuhkan sistem yang tegas bagi masyarakat Indonesia dalam mengantri. Sebagai bukti sistem yang membentuk perilaku mengantri tertib adalah orang-orang Indonesia yang berada di negara lain yang menerapkan mengantri tertib dapat mengantri sesuai aturan. Namun ketika kembali ke Indonesia tidak berbeda dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mengantri tidak tertib. Dengan program revolusi mental yang intinya kita harus berubah ke arah yang lebih baik termasuk dalam hal mengantri, semoga mengantri dengan tertib dapat menjadi budaya masyarakat kita. Mengantri lurus ke belakang, maju secara teratur, bukan umpel-umpelan. Semuanya ingin nyaman dalam mengantri, mari kita mengantri dengan tertib.