Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Jalan raya masih menyisakan cerita yang akan selalu berulang dari hari ke hari, yaitu kemacetan lalu lintas jalan raya. Dari harike harijumlah kendaraan dan kemacetan di jalan rayameningkat tingkat keparahannya. Terdapat beberapa sebab, yang terutama adalah jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang makin meningkat tidak seimbang dengan perkembangan jalan baru. Jalan raya baik jalan utama dan jalur alternatif semuanya mengalami kepadatan. Kemacetan yang biasanya terjadi di kota-kota besarsaat musim liburanberpindah, kemacetan terjadi di jalan-jalan penghubung antar kota dan di kota-kota kecil atau satelit kota-kota besar yang menjadi tujuan berlibur atau saat mudik. Mudik merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang tidak hanya milik umat Islam, saat perayaan Natal juga terjadi tradisi mudik. Tujuan utama mudik adalah bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman.

Ketika banyak orang di beberapa waktu bersamaan menggunakan jalan raya untuk berlibur atau mudik, menjadi kewajaran apabila volume kendaraan di jalan raya menjadi meningkat jumlahnya. Belum lagi ketidaksiapan petugas pengatur jalan akan menjadi faktor yang menambah tingginya tingkat kepadatan lalu lintas. Bahkan ditambah berapapun jumlah petugas di jalan, tidak akan mampu menjamin tidak terjadinya kemacetan di jalan raya. Kemacetan selalu menyebabkan tekanan sehingga terjadi kejengkelan dan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan raya.

Semua pengguna jalan merasakan ketidaknyamanan karena kemacetan, semua ingin sampai tujuan dengan tepat waktu atau sesuai rencana. Mungkin pembaca masih mengingat salah satu artikel yang pernah penulis tulis, yaitu tentang perilaku di jalan raya sebagai cerminan karakter bangsa. Salah satunya membahas tentang kesabaran dalam wujud kemauan untuk mengantri dan tertib berlalu lintas. Kesabaran dan tertib berlalu lintas nampaknya masih jauh dari harapan untuk terwujud apabila melihat perilaku berkendara pengemudi selama terjadi kemacetan di jalan raya. Saat terjadi kemacetan, kepadatan dan antrian yang panjang ketika hendak melewati jalur yang menyempit, pertigaan, perempatan, ataupun traffic light, seakan banyak pengemudi kendaraan bermotor baik itu mobil ataupun sepeda motor seolah-olah menjadi pereli atau pembalap jalanan.

Pereli atau pembalap jalanan yang penulis maksud adalah banyak dari pengemudi yang kemudian mengambil bahu jalan, kemudian di satu titik kemudian memotong jalan kendaraan lain yang sudah tertib mengantri berjalan perlahan mengikuti ritme kemacetan. Pengemudi seperti ini tidak memperdulikan orang lain, yang penting mereka bisa mendapatkan jalan secara cepat. Perilaku mengemudi yang menjengkelkan, terlebih lagi saat kendaraan lain yang dipotong tidak memberi jalan, pengemudi tersebut tetap memaksakan untuk masuk memotong dan terjadi gesekan atau benturan antar kendaraan. Anehnya saat terjadi gesekan atau benturan, misalnya menabrak spion kendaraan lain, mereka dengan santainya melaju seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan terus dilakukan perilaku mengemudi memotong jalur orang lain. Perilaku memotong jalan pengendara lain ini juga menjadi penyebab makin parahnya kemacetan karena antrian menjadi terhambat. Selain itu juga menstimulasi pengendara lain untuk menampilkan perilaku yang sama (same behavior) yaitu memotong jalur karena ternyata menghasilkan tujuan jangka pendek yaitu masih bisa berjalan saat kendaraan lain berhenti karena kemacetan.

Apabila terdapat beberapa mobil yang secara bersamaan berusaha saling memotong jalur, terjadi perebutan jalur dan berpotensi besar untuk terjadinya gesekan atau tabrakan. Perebutan jalur membuat kecepatan meningkat dan membahayakan pengendara lain karena memungkinkan tabrakan beruntun atau lebih dikenal dengan tabrakan karambol. Saat terjadi tabrakan atau gesekan tidak ada satupun yang mau mengakui kesalahan karena semuanya dalam kondisi emosi. Nah, apakah perilaku yang seperti ini menggambarkan esensi kesiapan memiliki kendaraan dan berkendara di jalan raya? Tentunya tidak, yang tergambarkan adalah hedonisme dan materialisme kepemilikan kendaraan dan tidak disertai budaya mengemudi yang santun. Pemilik kendaraan seharusnya sudah dapat berkendara dengan baik, membentuk kesabaran dan kedisiplinan, yang seharusnya selama berkendara membuat lebih tertib berlalu lintas. Apakah sudah karakter bangsa Indonesia yang sulit untuk diajak tertib berlalu lintas sebagaimana sulitnya tertib ketika mengantri pada momen-momen yang mengharuskan mengantri? Seperti banyaknya kasus kecelakaan ketika mengantri pembagian sembako atau pembagian zakat karena terinjak-injak orang lain saat berebut sembako atau zakat. Apakah hal-hal seperti ini, yang seharusnya tidak terjadi ketika tertib dan sabar mengantri akan selalu terulang kembali? Pertanyaannya, kapankah kita bisa menjadi bangsa yang tertib, rela, dan mengantri?.