oleh: Hazrul Iswadi

Departemen MIPA dan Teknik Industri Ubaya

Penulis mengikuti dua kegiatan penting pada bidang matematika yaitu Mathematics in Emerging Nations: Achievements and Opportunities (MENAO) Symposium pada tanggal 12 Agustus 2014 dan International Congress of Mathematicians (ICM) 2014 dari tanggal 13 s/d 21 Agustus 2014 di Seoul Korea Selatan. Beberapa tulisan tentang dua kegiatan penting ini akan penulis tulis di bawah ini dan di beberapa tulisan yang akan datang.

Pada hari-hari ini, Kota Seoul di Korea Selatan sedang demam matematika. Pada tanggal 13 sampai dengan 21 Agustus 2014 di Seoul sedang dilaksanakan International Congress of Mathematician (ICM) 2014 bertempat di COEX. Walaupun kegiatan kongres dilaksanakan di Kota Seoul tapi berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan matematika digelar juga di berbagai kota di Korea Selatan dan di negara sekitar Korea selatan. International Mathematical Union (IMU) menyelenggarakan kegiatan ini sekali dalam empat tahun.

ICM pertama diselenggarakan di Zurich pada tahun 1897, sedangkan ICM kedua di Paris diadakan tahun 1900. Sesudah itu, ICM selalu diselenggarakan sekali dalam empat tahun sampai dengan sekarang. ICM 2014 di Seoul adalah kegiatan yang ke 27, setelah yang ke-26 diselenggarakan di Hyderabad India. ICM secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada sejarah dan perkembangan matematika. Contoh pengaruh ICM pada perkembangan matematika adalah pada ICM kedua 1900 di Paris David Hilbert mempresentasikan 23 problem terkenal yang memberi arah perkembangan matematika secara keseluruhan pada abad ke-20 dan 21 ini.

Sebelum dan sesudah ICM 2014, diadakan konferensi-konferensi satelit yang tersebar di beberapa kota di Korea Selatan juga beberapa kota di negara tetangga Korea Selatan seperti Jepang, China, dan Rusia. Tercatat 35 konferensi satelit yang diadakan di seantero kota-kota yang ada di Korea Selatan seperti di Seoul, Daejoen, Cheongju, Gyeongju, Gunsan, Daegu, Pohang, Gwangju, dan Busan. Sedangkan tercatat 16 konferensi satelit yang diadakan di beberapa kota di negara Jepang, China, dan Rusia.

Ajang ICM, terutama ICM 2014 di Seoul, benar-benar menyajikan pesta meriah para matematikawan seluruh dunia dalam segala aspek, baik aspek tradisi, keilmuan, pendidikan, aplikasi, dan budaya. Salah satu kegiatan di ICM yang merupakan tradisi adalah pemberian penghargaan Fields Medal. Penghargaan Fields Medal adalah penghargaan yang paling prestisius dalam bidang matematika. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada hadiah Nobel bagi bidang matematika. Penghargaan yang setara dengan Nobel untuk bidang matematika adalah Fields Medal.

Fields Medal merupakan penghargaan yang diberikan kepada matematikawan yang melakukan penemuan yang menakjubkan dalam bidang matematika. Pada setiap kali penyelenggaraan ICM, Fields Medal diberikan kepada dua, tiga, atau empat matematikawan yang berusia kurang dari 40 pada tanggal 1 Januari pada tahun penyelenggaraan ICM. Karena kriteria Fields medal yang sangat tinggi dan ketat tersebut maka penerima Fields Medal dapat dikatakan merupakan matematikawan tersohor dan menjadi selebritis di matematika. Segenap perjalanan sejarah dari para penerima Fields Medal akan dikupas dan menjadi konsumsi media terkenal dunia seperti Time, Week, Guardian, dll.

Selama ini penerima Fields Medal didominasi oleh matematikawan yang berasal dari negara maju yang juga maju dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan seperti Amerika Serikat (12 orang), Rusia (9 orang), dan Prancis (8 orang) dan beberapa negara maju lainnya. Sedangkan dari Asia, sebelum ICM 2014 di Seoul, terdapat 3 orang yaitu dari Jepang, 1 orang dari Hongkong, dan 1 orang dari Vietnam. Pada ICM 2014 di Seoul terdapat kejutan yang manis untuk Asia yaitu ada dua orang Asia yaitu Manjul Bhargava dari India dan Maryam Mirzakhani dari Iran yang memperoleh Fields Medal.

Capaian dua orang Asia untuk mendapatkan Fields Medal pada ICM 2014 ini, ditambah lagi dengan penerima Fields Medal yang lain yaitu Artur Avila yang berasal dari Brasil sebagai penerima Fields Medal pertama dari Amerika Latin dan Brasil, melengkapi trend perkembangan matematika yang mengarah pada negara-negara berkembang. Kalangan matematikawan dunia mulai melihat bahwa perkembangan matematika masa yang akan datang akan dipengaruhi bakat-bakat matematika di negara berkembang. Salah satu indikator yang cukup valid adalah mulai dominannya anak-anak dari negara berkembang sebagai pemenang International Mathematics Olympiad (IMO) seperti dari Jepang, China, India, Vietnam, Iran, dll. Kebanyakan para pemenang IMO yang diselenggarakan setiap tahun tersebut dikemudian hari menjadi matematikawan tingkat dunia yang tangguh.

ICM 2014 ini juga mencatatkan sejarah yang tidak kalah pentingnya adalah penerima Fields Medal wanita pertama kali dalam diri Maryam Mirzakhani. Capaian Maryam Mirzhakani benar-benar membuka mata dunia dan matematikawan sendiri bahwa matematika sebagai ilmu yang sangat rasional ternyata dapat juga dikuasai oleh perempuan sama baiknya dengan para laki-laki. Pencapaian Maryam Mirzhakani diyakini akan memberikan inspirasi dan dampak yang luar biasa bagi perkembangan matematika terutama untuk matematikawan perempuan.

Selain dari sebagai ajang pemberian Fields Medal, dalam setiap penyelenggaraan ICM juga diadakan bermacam kegiatan seperti Special Lecture, Plenary Lecture, Special Lecture, Invited Lecture, Emmy Noether Lecture, Abel Lecture, Short Communication, Poster Session, IMU Panel Discussion, dan Invited ICM Panel Disscusion, dan Exhibitions.Saking banyaknya peserta dan kegiatan maka 9 hari kegiatan ICM seperti terasa sesak dan padat. Terkadang dua kegiatan yang menarik terjadi dalam satu waktu.

Standar yang tinggi pada kegiatan ICM yang prestisius ini terasa pada kualitas pembicara pada kegiatan-kegiatan yang ada diatas. Hanya matematikawan yang mempunyai kemampuan dan kualitas pekerjaan tinggi yang diundang untuk memberikan kuliah pada kegiatan seperti Special Lecture, Plenary Lecture, Special Lecture, Invited Lecture, Emmy Noether Lecture, dan Abel Lecture.

Peserta ICM , secara total ada empat ribu lebih, yang ingin presentasi diwadahi di Short Communication dalam bentuk Parallel Session (lebih dari 700 matematikawan pada sesi ini), sesi inipun juga terbatas karena banyaknya para matematikawan yang ingin berkomunikasi dengan matematikawan lain di seluruh dunia. Sampai-sampai Poster Session yang diharapkan dapat menampung aspirasi matematikawan seluruh dunia dalam menampilkan karyanya juga disesaki dan tidak dapat menampung semua peserta. Banyak peserta ICM hanya akhirnya tidak mendapatkan tempat untuk presentasi. Beruntung penulis diterima sebagai pembicara pada sesi short communication.