TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Dikonfirmasi mengenai kasus penipuan bermodus arisan lebaran, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Indarto menyatakan, “Memang ada laporan itu. Kasusnya ditangani unit Tindak Pidana tertentu (Tipiter).”

Alumnus Akpol 1995 ini menegaskan, kasus ini sudah pada tahap gelar perkara. Artinya, semua pelapor sudah diperiksa. Hanya saja, Indarto mengakui hingga sat ini pelaku belum tertangkap.

Kanit Tipiter AKP Andi Sinjaya mengungkapkan, arisan ini digelar tahunan. Sampai saat ini, ada empat korban yang melapor kepada pihaknya. “Informasinya korbannya masih banyak,” tegasnya, Kamis (18/8/2011).

Dari empat laporan itu saja, kerugian korban sudah mencapai Rp 1,5 miliar. Lebih lanjut, Andi mengungkapkan, dua korban menanggung kerugian sekitar Rp 200 juta, sedangkan dua korban lainnya, Rp 400 juta dan Rp 700 juta.

Seperti diberitakan, sedikitnya 70 warga Pondok Nirwana Executive Surabaya, menjadi korban penipuan arisan Lebaran. Sedikitnya Rp 27 miliar duit mereka dibawa kabur bandar arisan. Buce, juru bicara para korban arisan, mengatakan, kasus penipuan ini berawal sekitar empat tahun lalu. Saat itu, Yenny Liem Liana, pengusaha garmen yang tinggal di Pondok Nirwana Executive, bersama sang suami, Yulianto Tan, menawarkan arisan Lebaran kepada para tetangga.

Andi berharap para korban lainnya segera melapor ke polisi sehingga keterangan mereka bisa semakin memperkuat penjelasan saksi korban yang sudah melapor sebelumnya. Bagaimanapun, makin banyak korban yang bersaksi tentu memudahkannya untuk menangkap kedua pelaku. “Hingga saat ini kami masih bergerak sesuai dengan laporan korban yang ada. Namun, tidak menutup kemungkinan korban akan terus bertambah,” tuturnya.

Seorang sumber di Polrestabes Surabaya menyebutkan, sudah beberapa minggu ini polisi memburu pelaku. Namun, hasilnya nihil. Polisi sempat mendatangi rumah pelaku, namun rumah dalam keadaan kosong. Kini polisi sedang mencari keberadaan pelaku di beberapa lokasi yang dicurigai.

Kasus arisan Lebaran yang omsetnya miliaran rupiah sebenarnya sering terjadi. Tak hanya di Jatim, melainkan juga di kota-kota lain. Di Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat, akhir

September 2010, misalnya, ratusan warga menggeruduk rumah Akhim, bandar arisan Lebaran yang membawa kabur duit peserta sebesar sekitar Rp 2 miliar. Puluhan ibu rumah tangga juga pernah menggeruduk rumah Mulyadi Alias Jack, bandar arisan Lebaran di Jalan Bangka II, Gang Amal IV, Pela Mampang, Jakarta Selatan, pada 22 Agustus 2010.

Pengamat keuangan perbankan dari LPPM Universitas Surabaya (Ubaya) Dedy Marciano mengatakan, setiap investasi memiliki risiko. “Kalau model investasinya seperti arisan risiko yang harus dipahami adalah kredibilitas bandar arisan. Ini karena tidak ada penjamin secara hukum dan berkas-berkas resmi yang bisa dijadikan pegangan anggota,” katanya.

Tak seperti halnya berinvestasi di bank melalui deposito atau reksadana. “Investasi model arisan sama halnya menabung secara perorangan di orang, meskipun dia menyimpannya lewat giro atau produk investasi lainnya, namun para anggota tahunya ya seperti model arisan manual biasa,” ujarnya.

Masyarakat perlu mewaspadai penipuan model arisan maupun model lainnya, di awal investasi pasti terkesan menggiurkan karena returnnya benar-benar kembali. “Awalnya pasti lancar, modusnya memang begitu dimana-mana. Tujuannya agar orang percaya. Tapi, yang perlu diingat dalam prinsip investasi high risk high return, low risk low return. Kalau keuntungan yang dijanjikan sangat besar pasti risikonya juga besar, sebaliknya jika keuntungan yang dijanjikan kecil maka risikonya juga kecil. Kalau ada menjanjikan keuntungan besar risiko kecil, itu berarti penipuan,” jelasnya.

Misalnya, investasi di koperasi simpan pinjam (KSP) return tinggi pasti risikonya tinggi dibandingkan investasi di deposito bank dengan return kecil tapi lebih aman karena dijamin oleh pemerintah dengan nilai penjaminan simpanan maksimal Rp 2 miliar.

“Banyak produk investasi, kalau memang berniat inveastasi sebaiknya bandingkan antara produk satu dengan lainnya berikut risikonya juga. Kalau perlu, mintalah bimbingan atau panduan pada pelaku investasi yang sudah terpercaya,” pungkasnya.

sumber: http://www.tribunnews.com