Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Dewasa ini pelanggaran lalu lintas semakin sering kita temui. Mulai dari menerobos traffic light hingga melawan arus lalu lintas. Pelakunya mulai dari anak-anak hingga lansia, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi distereotipe-kan pada figur tertentu. Setiap generasi dapat melakukan perilaku pelanggaran lalu lintas.

Hal yang menonjol tentang perilaku pelanggaran lalu lintas adalah perilaku ini dilakukan oleh orang-orang demi kepentingan ataupun keuntungan pribadi. Sedangkan dampak negatifnya biasanya dirasakan oleh orang lain misalnya ditabrak meskipun sudah pada jalur yang tepat, mendapatkan makian dari orang yang melanggar, dan terkejut karena mendadak terdapat kendaraan yang tidak pada jalurnya. Namun, apakah ada kepeduliaan ataupun perspective role takingyang dilakukan pelaku? Perspective role takingmempersoalkan bagaimana kita mencoba memahami pola berpikir atau perilaku yang dilakukan orang lain. Biasanya yang melakukan perspective role takingpositif adalah orang lain yang dirugikan dengan mengatakan “ wajar orang tersebut melakukan pelanggaran lalu lintas karena ada kepentingan yang mendesak”. Sangat sulit ditemukan pelaku pelanggaran memiliki perspective role takingyang baik, bahkan tidak memperdulikan orang lain, yang penting dirinya mendapatkan keuntungan dengan cara melanggar lalu lintas, misalnya tidak terlambat di kantor, tidak terlalu lama menunggu lampu hijau, tidak perlu memutar jauh, dan sebagainya.

Terdapat banyak faktor penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas, namun dalam tulisan ini hanya akan membahas tentang peran orangtua sebagai salah satu penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas. Seperti diulas di awal, bahwa perilaku pelanggaran lalu lintas dilakukan oleh anak-anak dan orangtua bahkan lansia. Mengapa anak-anak juga dapat melakukan pelanggaran lalu lintas misalnya ketika naik sepeda berjajar, menerobos lalu lintas, dan melawan arus. Jawabannya secara praktis bahwa peraturan lalu lintas dibuat untuk kendaraan bermotor. Karena sepeda tidak memiliki mesin atau bermotor, maka sepeda dapat melakukan pelanggaran lalu lintas bahkan dapat dikatakan tidak melanggar. Jawaban ini didapatkan karena orangtua mengajarkan tidak apa-apa melawan arus, menerobos lalu lintas, bersepeda berjajar, asal jangan sampai tertabrak kendaraan lain.

Sehingga kalau ada anak-anak bersepeda melawan arus, menerobos lalu lintas, bersepeda bersejajar dan terjadi kecelakaan, pasti asusmi dan fakta yang dimunculkan adalah mereka ditabrakdan tidak mungkin anak tersebut yang salah. Biasanya akan terjadi penghakiman massa pada orang lain yang mengalami kecelakaan yang melibatkan anak-anak pelanggar lalu lintas tadi. Bahkan tertuduh pelaku pelanggaran adalah orang lain. Hal ini sudah menjadi semacam fakta yang diyakini orang-orang, bahkan apabila di kampung-kampung jelas terlihat ada peringatan hati-hati banyak anak kecil. Model yang seperti ini tujuannya baik agar kendaraan bermotor di kampung-kampung tidak melaju dengan kecepatan tinggi atau seenaknya. Namun, apakah terdapat pendidikan kepada anak-anak bahwa bila mereka sedang bermain di jalanan kampung sekalipun, jika terdapat kendaraan yang mau lewat, anak-anak tersebut baiknya menghentikan permainannya kemudian menepi untuk memberikan jalan pada kendaraan tersebut? Biasanya tidak, kendaraan yang akan lewat harus berhenti dulu, membunyikan klakson, dan anak-anak tersebut akan minggir dengan menggerutu. Fenomena ini seringkali terjadi, yang ironis adalah saat kejadian tersebut terdapat orangtuanya, bahkan dari orangtua tidak jarang yang membiarkan anak-anaknya tetap bermain meskipun tempat bermain tidak tepat, dan ikut menggerutu dengan mengatakan “apa tidak tahu kalau ini jalan kampung, kog diklakson anak-anak yang bermain”. Fenomena ini aneh bukan, namun banyak terjadi dan terjadi pembiaran massa. Di sinilah letak peran orangtua dalam terjadinya perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak-anak, semuanya dimulai sejak dini dan perilaku-perilaku yang awalnya kecil.

Fenomena berikut banyak ditemui saat pagi hari, saaat orangtua mengantarkan anak-anak berangkat sekolah ataupun saat siang dan sore hari saat orangtua menjemput anak-anak sepulang sekolah. Orangtua melanggar lalu lintas dengan tidak berhenti di belakang garis traffic lightsemuanya seakan-akan berebut di posisi terdepan, saat jalur yang traffic lightnya berwarna merah sepi mereka akan menerobos, bila tempat tujuan terlalu jauh berputar balik, mereka akan melawan arah. Orangtua melakukan pelanggaran lalu lintas ketika bersama dengan anak-anak. Banyak orangtua tidak menduga bahwa saat mereka melakukan pelanggaran lalu lintas, anak-anak melakukan pengamatan dan orangtua menjadi model. Terjadilah proses belajar melalui modeling. Pada proses belajar ini, anak-anak akan memperhatikan atau mengamati orangtua saat melakukan pelanggaran. Hasil pengamatan ini akan disimpan dalam memori baik secara visual ataupun secara verbal. Suatu saat, ketika dalam kondisi yang sama, anak-anak akan menampilkan perilaku pelanggaran lalu lintas, dengan harapan mendapatkan keuntungan seperti yang didapatkan orangtuanya saat melakukan pelanggaran lalu lintas. Gambaran yang dapat ditangkap dari pola berpikir anak-anak adalah, karena ingin cepat sampai, sepi, agar tidak lelah, maka akan melanggar lalu lintas, seperti yang dilakukan ayah atau ibu (orangtua). Nah, kalau seperti ini, sudah jelas peran orangtua sebagai penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak-anak.

Tidak semua anak-anak melakukan pelanggaran lalu lintas karena orangtuanya melakukan pelanggaran, namun kita harus mewaspadi perilaku pelanggaran yang dilakukan anak-anak karena memodel orangtuanya. Mengapa? Karena perilaku seperti ini biasanya memiliki kecenderungan akan diteruskan ke generasi berikutnya (transgenerational). Semoga tulisan ini memberikan manfaat.