Fenomena Diaspora Koloni Jawa Suriname: Peminjaman Identitas Dan Implikasinya Dalam Video Klip Lagu Jawa Suriname


  • 28-06-2013

Guguh Sujatmiko, Dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seni merupakan hal yang kreatif. Memiliki kelenturan dimana-mana sehingga terdapat berbagai kemungkinan yang sangat luas untuk di eksplorasi. Adanya diaspora tersebut dapat membuka cakrawala baru, eksplorasi artistic baru hingga terjadi definisi seni dan budaya itu sendiri, khususnya seni Jawa Suriname.

Istilah kata Diaspora berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti penyebaran atau penaburan benih yang merujuk pada sebuah bangsa atau penduduk yang meninggalkan tempat tradisi mereka untuk hidup di daerah lain. Menurut Thesaurus, Diaspora - the dispersion or spreading of something that was originally localized (as a people or language or culture) (thedictionary, 2013). Sedangkan awal mulanya disebutkan bahwa istilah tersebut digunakan oleh orang-orang Yunani yang melakukan perpindahan ke wilayah lain untuk membentuk koloni dan melakukan penyebaran kebudayaan. Selanjutnya makna diaspora merujuk kepada gerakan historis dari penduduk etnis Israel yang tersebar, perkembangan budaya penduduk itu, atau penduduk itu sendiri.

Diaspora orang jawa di Suriname, pertama kali datang ke Suriname pada tahun 1800-an sebagai kuli kontrak atau pekerja kasar untuk menggarap perkebunan-perkebunan yang sedang lesu di Suriname. Karena pada saat itu terdapat peraturan bahwa budak-budak yang berasal dari Afrika harus di hapuskan, sehingga Belanda sebagai pemerintah kolonial saat itu harus mendatangkan tenaga kasar. Orang jawa yang dibawa ke Suriname pada masa itu sebanyak 32.956 orang (Sarmoedjie, 2012).

Pada masa itu orang jawa di Suriname mulai berkembang, hingga pada tahun 1947 terjadi repatriasi. Beberapa orang jawa di Suriname menggunakan haknya untuk kembali ke Indonesia. Sekitar 11.000 orang kembali ke Indonesia hingga tahun 1954, selebihnya memilih tetap tinggal di Suriname, menjadi warga Negara Belanda, maupun tinggal di sekitar Negara tetangga seperti Brasil, maupun Guyana.

Setelah tinggal lebih dari 100 tahun di Suriname, budaya Jawa masih bertahan di Suriname. Penggunaan bahasa Jawa Ngoko masih digunakan oleh orang tua keturunan Jawa. Namun, generasi terbaru Jawa Suriname mulai meninggalkan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Saat ini, bahasa Jawa digunakan pada lagu-lagu yang digubah oleh musisi Suriname asal Jawa. Beberapa lagu juga dibuat video klipnya dan dijual secara luas atau diedarkan melalui You Tube.

Fokus Kajian

Video klip lagu Jawa Suriname yang akan di kaji adalah Met Kang Masku, oleh Angracia Sowidjojo; Pae Matjol, oleh Danny Kasanramelan; Ngopi, oleh Hesdy Adasi. Hal-hal yang akan di kaji adalah lirik lagu, genre musik, kostum, gerakan (tari) actor/artis yang terdapat didalam video klip.

Lirik pada masing-masing lagu Jawa Suriname tersebut menggunakan bahasa Jawa Ngoko, yaitu bahasa Jawa dengan tingkatan paling rendah (kasar) yang biasa digunakan sehari-hari ketika berbicara dengan teman atau berbicara dengan orang yang lebih muda. Lirik lagu menceritakan isi lagu, dari lirik tersebut akan dapat diketahui maksud dari lagu tersebut.

Genre Musik adalah pengelompokan musik sesuai dengan kemiripannya satu sama lain. Musik juga dapat dikelompokan sesuai dengan kriteria lain, misalnya geografi. Sebuah genre dapat didefinisikan oleh teknik musik, gaya, konteks, dan tema musik.

Kostum dan aksesoris dapat diartikan tentang bentuk pakaian secara umum, gaya berpakaian kelompok sosial tertentu atau pada periode tertentu, atribut atau perlengkapan yang digunakan dalam satu waktu tertentu. Kostum mampu mendeskripsikan karakter pengguna atau tipe pengguna. Aksesoris mampu menunjang karakter dalam menunjukkan dirinya.

Tari adalah gerak tubuh secara  berirama  yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring mengatur gerakan penari akan memperkuat maksud yang ingin disampaikan.  Komposisi tari  merupakan seni membuat/merancang struktur ataupun alur sehingga menjadi suatu pola gerakan-gerakan. Istilah komposisi tari bisa juga berarti navigasi atau koneksi atas struktur pergerakan. Hasil atas suatu pola gerakan terstruktur itu disebut pula sebagai koreografi. 

Pembahasan

1.  Kang Masku, oleh Angracia Sowidjojo

Lagu Kang Masku dibawakan oleh penyanyi asal Suriname berdarah Jawa, Angracia Sowidjojo. Penyanyi Angracia Sowidjojo lahir di Paramaribo, Suriname, 29 januari 1985 (28 tahun). Merupakan generasi keempat imigran dari Jawa. Fasih berbahasa Belanda namun tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Kebanyakan, mulai generasi ketiga, bahasa jawa tidak banyak dipergunakan lagi sebagai bahasa sehari-hari (Sowidjojo, 2013). Lagu ini diproduksi oleh The Rhyntjan’s Production.

Lagu Kang Masku pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006. Menceritakan tentang seorang wanita yang sedang rindu kepada kekasihnya. Menunggu kekasihnya datang dengan kesabaran. Pada suatu waktu rindunya tidak terbendung dan menagih janji kepada kekasihnya untuk kembali.

Yen ning tak sawang-sawang, koyo lintang lan wulan, karo gandengan tangan ora biso pisah. Sing tak impi-impi saben wengi, nganti semono ora ono liyo.”

Kang mas aku ora bisa turu, kang mas aku awakku nganti kuru. Mbok dipirake awakku mbok dipikirake janjimu.”

Genre music yang dibawakan pada lagu ini adalah dangdut modern. Dangdut merupakan genre music asal Indonesia yang mengandung musik Hindustan, Melayu, dan Arab. Penggunaan tabla atau gendang dari India adalah ciri khas dari musik dangdut sehingga genre music dangdut pada lagu ini tidak dapat dibedakan dengan musik dangdut yang biasa diperdengarkan di Indonesia. Perkembangan teknologi informasi memberikan kemungkinan yang sangat besar bagi perkembangan musik dangdut di Suriname, pertama budaya music Amerika Latin harusnya lebih mendominasi di Suriname, kedua perkembangan sejarah musik dangdut di Indonesia tidak dapat diikuti oleh imigran di Suriname karena musik dangdut menemukan bentuknya di Indonesia dimulai pada tahun 1958 dengan penggunaan tabla melalui Ellya Khadam dengan lagunya Boneka dari India. (Joyopuspito, 2011)

 

Kostum tradisional jawa masih terasa. Penari latar pada lagu ini menggunakan kebaya dengan warna hijau, putih dan merah. Pada bagian bawahan menggunakan sarung batik dibawah lutut. Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarungbatik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. Selain itu pada kostum kedua penari latar ditemukan selendang. Selendang  adalah kain pakaian sederhana, dipakai secara longgar di atas bahu, tubuh bagian atas dan lengan, kadang-kadang juga di atas kepala. Biasanya berupa sehelai kain persegi panjang, sering dilipat untuk membuat segitiga tetapi juga bisa memang berbentuk segitiga dari awal.(Wilson, 1981). Penyanyi menggunakan baju lebih modern dengan model you can see ketat berwarna putih dan memakai celana hitam. Sedangkan tokoh pria menggunakan kaos kecoklatan dengan celana jeans.

Gerakan tari Gambyong Jawa Tengah terlihat mendominasi walaupun sederhana. Gerakan keempat penari latar selaras dan gemulai. Penyanyi bergoyang seperti biasa, mengikuti irama musik dangdut apa adanya.

2. Pae Matjol, oleh Danny Kasanramelan

Lagu ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006. Dinyanyikan oleh Danny Kasanramelan, diproduksi oleh The Rhyntjan’s Production di Suriname. Lagu ini menceritakan seorang lelaki yang gigih bekerja di ladang dengan cangkulnya. Berbagai macam jenis tanaman di tanam olehnya. Bekerja setiap hari mulai pagi hingga waktu yang tidak ditentukan dan tidak mendapatkan upah. Walaupun umurnya sudah tujuh puluh tahun dan memiliki sakit rematik namun ia masih tetap bekerja di ladang.

Parak esuk pak’e nang kebone, ho… Manggul pacul karo bontote, he…
Iku sarapane, sak bendinane, Iku kerjanane, sak bendinane

Pak’e macul-macul, nandur timun, Pak’e macul-macul, nandur timun
 

Amben parak esuk, pak’e budal manggul pacul karo porok’e

Nandur sak entuk’e, koyo bana telo kacang brol karo bentole
Wah penak rasane, budal parak esuk mulih yo sak geleme
Enak yo rasane, mangan jangan bening karo sambel trasine

Nelangsane pak, nelangsane, Pak’e sambat loro gegere, sak bendinane
Nelangsane pak, nelangsane, Umur pitung puluh ijik kothot awak’e

Nelangsane pak, nelangsane, Pak’e kowe wong dudo nanging ijik trangane
Nelangsane pak, nelangsane, Oh pak’e kowe isih keras iso nemu randane

Pak’e kerjo seminggu suwene, ho… Setu minggu gelem lerene, he…
Piye.., wis sak mestine Pak’e yo sing akas gek perlu nyambut gawe, Sak bendinane…”

Lirik didalam lagu ini menceritakan kehidupan yang sama dengan apa yang dilakukan petani di Indonesia. Berangkat di pagi hari sambil membawa bekal berupa sayur bening, biasanya sayur bayam dengan rempah kunci ditambah dengan sambal terasi merupakan makanan yang sangat familiar di Indonesia. Menanam ketela, mentimun, talas, adalah jenis-jenis tanaman yang mudah ditemui di Indonesia. Lirik lagu diatas menggambarkan kehidupan petani Indonesia yang dilakukan setiap hari hingga saat ini.

Genre musik adalah samba. Samba merupakan sebuah genre musik yang berasal dari Afrika, namun berkembang sangat luas di Brasil. Samba menjadi ikon music di Amerika Latin. Penggunaan genre musik samba di lagu Pae Matjol memberikan sentuhan yang berbeda dengan lagu dari Indonesia yang biasanya menggunakan genre dangdut, keroncong maupun campursari. Brasil sebagai negara tetangga Suriname memberikan pengaruh terhadap pemilihan genre musik pada lagu ini.

Kostum yang digunakan oleh tokoh bapak antara lain caping, selendang, celana hitam dan cangkul. Untuk istri bapak menggunakan caping, kebaya kuning, dan jarit batik berwarna dasar putih. Kostum tersebut menunjukkan budaya tradisional Jawa. Sedangkan penyanyi memakai kaos merah dengan celana jeans saja. Pada latar belakang banyak sekali tanaman tropis seperti pohon pisang, tebu, jagung, ketela, dan talas. Sedangkan bentuk rumah cenderung memiliki sentuhan Amerika latin, dengan tatanan kayu membujur dengan warna merah.

Gerakan tari yang dilakukan tidak mewakili budaya Jawa. Para penari mengikuti gerakan Samba yang mengiringi lagu ini.

3. Ngopi, oleh Hesdy Adasi

Lagu ciptaan Yanilipatroini dinyanyikan oleh Hesdy Adasi, seorang keturunan Jawa dan Amerika di Suriname. Lagu ini diperkenalkan pertama kali tahun 2007. Menceritakan kenikmatan minum kopi yang dilakukan dipagi hari sebelum berangkat kerja.

Esuk-esuk, tangi turu pengen ngopi, Ora lali, mangan keju karo roti
Enak tenan, seger tanan, Wis biasa, karo rokok’an

Dipenakke, omong-omong jagongan, Lungguhe jengrang, karo guyonan
Wanci kerjo, budhal makaryo, Oleh hasil, kanggo keluargo

Pi..ngopi, ngopi, pancen seger tenan, Wayah esuk ngopi, sinambi rokok’an
Pi..ngopi, ngopi, pancen seger tenan, Ning ojo nganti, ninggal gawean

Ngono ora becik, ngono tidak baik, Nyambut gawe, mbok yo sing apik.”

Lirik lagu ini sangat kental menceritakan budaya Jawa. Saat orang minum kopi dipagi hari sambil merokok dan bercengkrama. Orang jawa sangat suka dengan kopi karena tanaman ini mudah ditemukan di Indonesia dan merupakan salah satu alasan Belanda menjajah Indonesia. Namun, keju dan roti seperti disebutykan didalam lagu ini bukanlah makanan yang digemari masyarakat Jawa di pagi hari. Keju dan roti diperkenalkan pertama kali oleh Belanda, sehingga lirik tersebut telah mengalami pencampuran budaya antara Belanda dan Indonesia. Hal ini merupakan silang budaya namun memiliki benang merah yang sama-sama mempersatukan sehingga terjadi perkawinan budaya (Sachari, 2002).Nasehat masih muncul didalam lirik. Bekerja yang baik untuk keluarga haruslah menjadi tujuan.

Genre music yang digunakan adalah pop dangdut. Dangdut yang berasal dari Indonesia mudah sekali mengalami perubahan dan penyesuaian termasuk terhadap jenis musik lain. Musik jenis ini pernah sangat popular di Indonesia di era tahun 90 an. Sebut saja seperti Farid Hardja, Merry Andani pernah mempopulerkan lagu dengan genre music seperti ini.

Kostum yang digunakan sangat casual. Menggunakan kaos dan celana jeans saja. Penari latar, seluruhnya adalah wanita cenderung menggunakan jeans ¾ maupun celana pendek. Suka menggunakan atasan tanpa lengan. Bentuk baju seperti ini sering digunakan oleh penduduk Amerika Tengah dan Amerika Latin karena iklim tropisnya.

Gerakan-gerakan tarian jawa tengahan masih terlihat, seperti tangan yang diputar keatas, kekiri dan kekanan dengan gemulai. Menggerakkan badan bersama-sama kekiri dan kekanan merupakan ciri khas gerakan Jawa.

Kesimpulan

Diaspora yang terjadi terhadap masyarakat Jawa yang sekarang tinggal di Suriname mampu melenturkan dinding-dinding kebudayaan. Dimana batas-batas yang terjadi terhadap budaya tertentu akhirnya menjadi sebuah bentuk baru berupa alkulturasi antara budaya Amerika Latin dengan budaya Jawa. Proses difusi kebudayaan diterima dengan baik hingga menghasilkan alkulturasi atau perubahan kebudayaan. Satu tahap penting kemudian adalah Asimilasi, yaitu proses dari interpretasi dan fusi dimana orang-orang dan kelompok mendapatkan kenang-kenangan, sentiment dan dan sikap dari orang-orang atau kelompok lain dengan cara sama-sama menghayati pengalaman dan sejarah, dan kemudian terinkorporasikan dengan mereka dalam satu kehidupan kebudayaan.(Kusumohamidjojo, 2010)

Dalam ketiga video klip diatas. Masyarakat Jawa Suriname justru meminjam elemen budaya jawa untuk dimasukkan kedalam budaya mereka. Bentuk peminjaman tersebut dinikmati sepenuhnya, mereka berusaha untuk melanggengkan dan mempertegas dari dominasi budaya Amerika Latin sendiri. Hal ini disebut juga sebagai pengingkaran terhadap budaya yang ada di Amerika Latin, masyarakat jawa di Suriname ingin membentuk identitas sendiri disamping itu mereka juga ingin menjadi sama dengan penduduk disana.

Penduduk Jawa Suriname generasi keempat saat ini tidak dikonstruksi hidupnya di Tanah Jawa. Mereka telah lahir, tumbuh, dan mungkin akan mati di Suriname. Tanah asal mereka adalah Suriname. Nenek moyang dari Jawa bisa saja menjadi mitos untuk saat-saat selanjutnya. Mitos tersebut yang akan membentuk identitas karena adanya cerita dan kenangan yang disepakati bersama-sama. Identitas tersebut yang akan mempertalikan kekuatan kelompok Jawa Suriname yang nantinya akan memkonstruksi identitas mereka sendiri di Suriname.

Seni merupakan hal yang kreatif. Memiliki kelenturan dimana-mana sehingga terdapat berbagai kemungkinan yang sangat luas untuk di eksplorasi. Adanya diaspora tersebut, akan membuka cakrawala baru. Eksplorasi artistic baru hingga terjadi definisi seni dan budaya Suriname itu sendiri.

Daftar Pustaka

Joyopuspito, S. (2011). Musik Dangdut, Suatu kajian sejarah dan analisis teori musik.Jakarta: Bina Musik Remaja.

Kusumohamidjojo, B. (2010). Filsafat Kebudayaan, Proses Realisasi Manusia.Yogyakarta: Jalasutra.

Sachari, A. (2002). Estetika, Makna, Simbol, dan Daya.Bandung: ITB.

Sarmoedjie, D. H. (2012, Juli 29). “Mengintip” Sejarah dan Perjuangan Para Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Asal Indonesia, di Suriname.Retrieved Maret 17, 2013, from sejarah.kompasiana: http://sejarah.kompasiana.com/2012/07/29/mengintip-sejarah-dan-perjuangan-para-mantan-tenaga-kerja-indonesia-tki-asal-indonesia-di-suriname-480964.html

Sowidjojo, A. (2013, January). Retrieved January 16, 2013, from Facebook: https://www.facebook.com/ange.andy/about

thefreedictionary. (2013). thefreedictionary.com.Retrieved Maret Minggu, 2013, from thefreedictionary: http://www.thefreedictionary.com/Diaspora

Wilson, K. (1981). Kashmir Shawls from Europe and Asia. Art & Antiques, 69–73.